Flatliners (Ulasan)

Flatliners: Metafisika dalam film?

Sabtu, 4 November 2017. Saya mendapat tiket gratis menonton film Flatliners dari sepupu Mas Sholahuddin Klub Baca Jogja, namanya Mbak Hanan. Dua orang teman Mbak Hanan membatalkan tiket karena ada urusan mendadak dan dua tiket itu beralih pada saya dan seseorang yang bernama Mas Kijing—ada satu lagi teman Mbak Hanan yang menonton bersama kami, namanya Mbak Enno, semoga saya nggak salah ingat. Ada meet and greet di Balcony Ambarrukmo Plaza pukul 09:30, sebelum pemutaran film pukul 12:00. Seperti biasa, saya datang terlambat.
Di acara meet and greet ini kami bertemu dengan Mbak Citra, seseorang yang sudah tiga kali mengalami mati suri. Mbak Citra menjelaskan beberapa hal tentang dunia mistis dan sedikit penjelasan beberapa hal yang dia sebut sebagai metafisik. Sengaja saya beri tautan pada mistis dan metafisik agar kita bisa sepaham tentang istilah mistis dan metafisik yang saya maksud di sini. Mbak Citra lebih banyak menyinggung tentang astral projection, near death experience (yang terputar di kepala saya malah lagunya Lifehouse dengan judul serupa hhh~), dan hal-hal yang melampaui nalar. Saya percaya pada segala yang mistis, yang belum bisa terjelaskan oleh nalar. Tapi masih ada beberapa hal mengganjal, nanti kita bahas.
Flatliners bercerita tentang empat remaja yang sengaja mati suri; Courtney, Jamie, Marlo, dan Sophia. Ada satu lagi yang bersama mereka namanya Ray, tapi sejak awal dia sudah memutuskan untuk tidak ikut proyek astral ini, Ray hanya membantu ‘menghidupkan’ mereka kembali. Mereka berlima adalah mahasiswa kedokteran. Ada banyak penjelasan saintifik tentang kematian di sini, tapi saya tetap tidak bisa mengerti apa itu kematian. Setelah keempat orang ini mati suri, mereka merasa diikuti oleh sesuatu. Mati suri seperti membangkitkan rasa bersalah dan rasa takut mereka yang sejak lama mereka represi. Rasa takut mereka diwujudkan sebagai hantu yang mengejar; Courtney yang dulu tidak sengaja menyebabkan kecelakaan hingga adiknya tewas, dikejar oleh hantu adiknya; Jamie yang dulu pernah meninggalkan pacarnya yang dia hamili, dihantui oleh pacarnya yang sesungguhnya masih hidup; Marlo dihantui oleh Cyrus, pasien yang tidak sengaja terbunuh karena Marlo salah memberikan obat; dan Sophia, yang menyebarkan foto telanjang teman SMA-nya yang bernama Irina, dikejar oleh bayangan Irina.
Sejujurnya film ini film ‘remaja’ sekali, dengan pesan moral kentara agar kita berani bertanggung jawab atas segala perbuatan dan berani memaafkan diri sendiri atas segala kesalahan. Tapi kita tidak akan membahas itu. Ada hal-hal yang lebih menarik untuk dibahas.
 Pertama, kematian secara medis memang dimungkinkan, tapi apakah mati suri bisa ‘dikondisikan’ seperti teori yang dipakai dalam film ini? Dalam Flatliners, manusia dimungkinkan untuk mati selama kurang dari lima menit kemudian dihidupkan kembali. Pertanyaannya kemudian apakah yang menghidupkan manusia? Jiwa? Ruh? Apakah tubuh astral (ruh) itu ada? Saya kurang percaya pada konsep dualitas tubuh-jiwa (yang biasanya dipahami sebagai tubuh-ruh, bahwa ruh dan tubuh adalah dua entitas terpisah), yang saya percaya tubuh dan jiwa adalah suatu kesatuan (sedikit tentang jiwa di sini). Dan istilah jiwa-tubuh-ruh (soul/psyche-body-spirit, konsep ini terutama dipakai oleh Ibnu Sina) masih belum sepenuhnya saya mengerti. Asumsikan ketika terjadi kematian medis, jiwa/pikiran ikut mati, tetapi bagaimana kita bisa yakin kematian medis (medical death) buatan juga pasti menyebabkanterlepas dari pertanyaan apakah ruh itu adaruh pergi? Ketika Courtney melihat jasadnya sendiri, apakah itu sungguhan ‘ruh’ Courtney yang menyaksikannya? Bagaimana pula ruh berpengaruh pada tubuh? Apa bedanya perjalanan astral dengan depersonalisasi, psikadelik, ekstase, halusinasi dan hal-hal yang berkaitan dengan psikotik lainnya? Apa yang digambarkan Flatliners saat masa-masa transisi hidup-mati lebih mirip menyelami (saya kurang tahu istilah mana yang lebih tepat) subconscious/unconscious, di mana kenangan buruk manusia terpendam/terepresi. Tidak ada hal metafisik yang disinggung di sini.
Kemudian, apakah alam baka sudah berlangsung saat ini? Mungkin saja ada perjalanan mistis yang melampaui waktu (waktu dalam konsep barat, yang bentuknya linier), terlepas dari perdebatan apakah waktu di masa depan bisa berupa realitas, tetapi film ini tidak menjelaskan apa-apa tentang alam baka. Setelah Courtney mati sungguhan (maaf, saya nggak bisa buat nggak spoiler), kita tidak diperlihatkan bagaimana atau ke mana ‘ruh’ Courtney pergi saat kematian ‘sungguhan’ datang. Lagi-lagi, Flatliners pun tidak menyinggung sisi mistis sama sekali.
Film ini agaknya galau, apakah ingin dibilang saintifik, metafisik, atau mistis.
Berita bagusnya, Diego Luna, yang jadi Ray, manis di film ini—hamdalah saya ada hiburan. Film ini pun tidak cukup horor, tapi sesekali bikin kaget dan gemay~

7/10.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

hang-heng-hong 4

aku merindukanmu seperti aku merindukan semangkuk bubur ayam cina dengan potongan lobak kering
semangkuk bubur ayam cina dengan potongan lobak kering yang ada di pangkuanku nyaris setiap sore
aku merindukanmu seperti aku merindukan satu kantong kresek kerang hijau asam-manis dua ribu dapat banyak
satu kantong kresek kerang hijau asam-manis dua ribu dapat banyak yang ada di genggamanku nyaris setiap sore
semangkuk bubur ayam cina dengan potongan lobak kering dan satu kantong kresek kerang hijau asam-manis dua ribu dapat banyak
adalah dua kebahagiaanku yang tak dapat terganti
sampai kemudian kamu datang dan nilaimu dua kali lipat dari semangkuk bubur ayam cina dengan potongan lobak kering dan satu kantong kresek kerang hijau asam-manis dua ribu dapat banyak

aku merindukanmu seperti aku merindukan kue pancong pasar jangkrik gopek dapat satu
kue pancong pasar jangkrik gopek dapat satu yang biasa jadi kudapanku saat siang
aku merindukanmu seperti aku merindukan cakwe dan batagor mang ujang di belakang sekolah
cakwe dan batagor mang ujang di belakang sekolah yang biasa jadi jajanan siang istirahat kedua
kue pancong pasar jangkrik gopek dapat satu dan cakwe dan batagor mang ujang di belakang sekolah
adalah dua kenanganku paling manis yang tak dapat terganti
sampai kemudian kamu datang dan aku nyaris terkena kencing gula setiap kali aku mengingatmu

kamu adalah semangkuk bubur ayam cina dengan potongan lobak kering, satu kantong kresek kerang hijau asam-manis dua ribu dapat banyak, kue pancong pasar jangkrik gopek dapat satu, dan cakwe dan batagor mang ujang di belakang sekolah dalam satu meja
kamu lebih dari empat sehat lima sempurna
empat sehat lima sempurna baik untuk tubuh, kamu baik untuk jantung dan hatiku

nggak apa kamu jijik pas baca ini, besok juga bakal kangen

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mata Rantai Infinitum (Cerpen)


Malam itu hujan lebat tanpa petir. Iskandar duduk di teras rumah dengan secangkir kopi dan koran lokal tadi pagi di pangkuan. Sudah lewat jam sepuluh saat Iskandar memutuskan untuk melipat koran dan memandang kosong deras hujan. Jalan setapak dari teras menuju pagar diapit oleh rumput teki dan ada taman kecil dari perdu di sisi kiri. Dua lampu taman setinggi satu setengah meter mengapit pagar. Di dekat lampu sisi kanan itu Iskandar melihat seseorang berdiri menggigil.
Bangku berdecit karena gerakan berdiri Iskandar yang tiba-tiba. “Sara, tolong ambilkan payung!”
Tidak ada sahutan dari dalam. Iskandar berdiri di muka pintu masuk, memanggil istrinya sedikit lebih keras dan mengulangi permintaannya untuk segera diambilkan payung. Sara berlari menghampiri Iskandar dengan panik. Dia masih memakai kacamata dan sebuah pulpen terselip di telinga. Dia tadi sedang di ruang kerja. Bahkan di tengah liburan Sara tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, gerutu Iskandar. Hanya di dalam pikiran, dia tidak sampai hati menyuarakannya.
“Ada apa?”
“Payung. Ambil payung.”
Sara menuju ruang belakang, balik ke teras dengan sebuah payung besar. Iskandar mengambil alih payung. Wajah Sara bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dan Iskandar hanya mengedikkan bahu ke arah gerbang sambil buru-buru membuka payung, bersiap menjemput orang yang di depan pagar itu.
“Siapkan teh kamomil,” pinta Iskandar sebelum ditelan deras hujan.
Sara kembali masuk, meletakkan pulpen dan kacamata di ruang kerja dan menuju dapur. Sadewa, anak mereka yang baru berusia delapan tahun, terbangun. Dia mendengar berisik-berisik dan bertanya-tanya dalam hati; kenapa, sih?
Sadewa keluar kamar, turun dari lantai dua dengan wajah mengantuk. Dia menyusur tangga kayu mahogani lapis karpet cokelat tua, menuju ruang tengah. Di sana sudah ada Iskandar dan seorang laki-laki asing. Laki-laki asing yang aneh. Bagian dadanya menggelembung dan dia terus bersedekap seperti menahan gelembung itu jangan sampai jatuh dari sana. Sadewa tidak begitu yakin, mungkin dia terlalu mengantuk. Tapi, tidak, penglihatannya benar. Sesuatu di dalam kaos pria itu bergerak, membuat Sadewa menarik napas tercekat. Iskandar dan tamu itu menoleh, menyadari kehadiran Sadewa.
“Belum tidur?” Iskandar tersenyum.
“Ada ribut-ribut. Dewa pikir apa.” Sadewa beringsut mundur. Matanya yang terbuka-terpejam berusaha awas mengamati si tamu. Terutama bagian yang menggelembung di balik kaos.
Sara datang dengan secangkir teh kamomil dan sehelai handuk kering. Cangkir teh dan handuk diletakkan di atas meja. Tamu itu meraih handuk, berterima kasih dengan rikuh. Sara balas tersenyum kemudian duduk di dekat Iskandar. Sadewa menghampiri ibunya dan menggelayut menahan kantuk.
Pandangannya melekat pada apa yang ada di balik kaos tamu itu; sesuatu yang kuyu turun dari sana. Menggeliat kikuk, menggulung diri seperti kegigilan menahan dingin. Apa itu? Anak monyet? Sadewa kehilangan rasa kantuk.
*
“Ini kukang kayan.” Laki-laki itu menjelaskan.
Dari logatnya, Iskandar menebak laki-laki itu biasa bicara sehari-hari dalam bahasa Kutai. Dan karena sejak tadi Iskandar memakai bahasa Indonesia, laki-laki itu terbawa memakai bahasa Indonesia.
Benar saja, saat diminta bercerita lebih banyak, tamu itu mengaku datang dari Samarinda Ilir. Tempat tinggalnya paling tenggara dekat dengan hilir Sungai Mahakam. Dia berjalan-menjajakan sampai tiba di Samarinda Seberang. Biasanya dia menjual lewat pengepul. Kali ini dia lagi butuh uang lebih banyak sebab anak sulungnya terancam dikeluarkan dari sekolah karena terlalu lama menunggak SPP dan anaknya yang nomor dua terkena diare parah. Dua kukang sebelumnya sudah laku dua ratus lima puluh ribu per ekor. Kalau lewat pengepul, dia biasa menjual paling mahal tiga puluh ribu per ekor.
Paling mahal! Berapa ekor kukang yang harus dia tangkap untuk bisa hidup sehari-sehari? Berapa ekor kukang yang raib dari habibat dalam satu bulan karena ditangkap satu orang saja? Iskandar tidak habis pikir.
“Masih kurang berapa untuk lunasi SPP dan biaya perawatan si anak nomor dua?”
“Satu ekornya saya jual sama, dua ratus lima puluh,” jawab laki-laki itu sungkan. Dia masih mengusap-usapkan handuk pada kepala yang setengah basah. Si kukang sendiri sudah dikeringkan dengan pengering rambut punya Sara.
Laki-laki itu dan Iskandar masih duduk di sofa. Sadewa sudah pindah duduk di karpet supaya bisa bermain bebas dengan kukang. Sara mengawasi Sadewa dan merasa bahagia. Hewan menggemaskan itu berjalan seperti pemalas yang merangkak merambat dari tangan Sadewa naik menuju bahu. Dia mengendus-endus wajah Sadewa, menjilatnya sekali. Ini membuat Sadewa terkekeh senang. Anak kecil mudah sekali terpikat pada mainan baru.
“Begini, Pak—,” Iskandar mengerling pada laki-laki itu, isyarat agar dia menyebutkan nama.
“Hakim. Nama saya Hakim.”
“Begini, Pak Hakim. Kalau memang Bapak butuh biaya, kami bisa berikan sedikit. Tapi tolong bawa hewan itu kembali.”
Sadewa, Sara, dan Pak Hakim mendongak menatap Iskandar bersamaan. Ada kekagetan yang berbeda di wajah masing-masing.
“Ayah,” lirih Sadewa. “Dewa mau pelihara ini, Yah.”
Iskandar tersenyum. Pada wajahnya ada cahaya kebijaksanaan. “Lusa kita sudah akan pulang ke Yogyakarta, Dewa.”
“Kita bawa juga ke Yogya.”
Urus izin buat bawa hewan di pesawat susah.” Kali ini Sara mencoba memberi penjelasan yang lebih berterima. Lagipula, mana mungkin boleh, pikir Sara, ini hewan ilegal. Pasti langsung dioper ke Pusat Penyelamatan Satwa terdekat.
Sadewa belum menyerah. “Anak monyet ini bisa ditinggal di sini. Tiap liburan kita jenguk.”
“Itu namanya kukang, Dewa,” ralat Iskandar.
“Iya, kukang maksud Dewa. Dewa mau pelihara, biar tiap liburan ada teman main.”
“Lalu siapa yang rawat kalau dia tinggal di sini?”
Sadewa diam sebentar. Ragu-ragu dia bilang, “Pak Hakim?”
Iskandar turun dari tempat duduk, berlutut di hadapan Sadewa yang bersila dengan kukang di bahu. Hewan itu memeluk leher Sadewa sembari menatap Iskandar, beralih melihat sekeliling, kembali melihat Iskandar lagi, menatap kening Sadewa. Matanya bulat-lebar terlihat begitu polos. Tapi Iskandar tahu mata itu adalah mata alam yang liar; merindukan kebebasan.
“Kadang, kita perlu melepas sesuatu yang benar-benar kita cinta, demi kebaikan bersama.”
Ada kesedihan menggantung di wajah Sadewa. “Dewa mau kukang.”
“Suatu hari, Sadewa, kamu bakal paham kenapa kukang ini seharusnya dibiarkan pulang.” Iskandar kembali pada Pak Hakim. “Gimana, Pak? Kami bisa bantu sekadarnya. Tapi Pak Hakim harus janji lepas lagi kukang ini setelah pulang.”
Sejujurnya, Iskandar bukan orang yang banyak uang. Dia hanya punya studio foto kecil di Yogyakarta dan bekerja sebagai Auditor Senior di sebuah Kantor Akuntan Publik yang tidak seberapa besar pula. Barangkali karena Iskandar peduli pada populasi kukang, barangkali karena Iskandar merasa empati pada Pak Hakim, barangkali karena keduanya makanya dia ingin membantu.
“Dua ratus lima puluh, Mas.” Pak Hakim masih sedikit tergagap. Ada yang dia sembunyikan. Dan Iskandar tahu tanpa perlu jumlah sebenarnya terucap.
Iskandar beranjak menuju kamar untuk mengambil uang. Sara mengekor. Dia mengecup ringan puncak kepala Sadewa sebelum pergi.
“Sudah hampir tengah malam. Sadewa balik ke kamar tidur, ya?”
Sadewa mengangguk terpaksa.
Di kamar ada perdebatan kecil antara Sara dan Iskandar. Sara memikirkan keuangan rumah tangga mereka. Iskandar jadi agak jengkel.
“Aku pinjam dulu uangmu, bulan depan kuganti.” Lugas. Itu yang bisa dibaca Sara dari kata-kata Iskandar.
Apa yang terbersit di benak Iskandar cukup rumit; dia tidak tahu harus menyalurkan rasa kesal pada siapa. Orang-orang seperti Sadewa yang ingin memelihara kukang? Dengan adanya permintaan, maka penawaran akan terus berjalan. Ini salah satu alasan kenapa pasar gelap kukang tetap ada. Dalam suatu sudut pandang, orang-orang seperti Sadewa bisa disalahkan. Tapi buat apa disalahkan? Tidak menyelesaikan apa-apa juga. Atau Iskandar harus kesal pada orang-orang seperti Pak Hakim? Tapi mereka hanya korban nasib buruk, mereka menjual kukang bukan untuk jadi kaya raya. Lingkaran setan yang tidak ada habisnya. Mungkin kalau Iskandar ‘memberi’ sedikit, dia bisa memutus sementara lingkaran setan ini. Pak Hakim tidak perlu menangkap kukang dalam satu-dua hari.
Tapi, ada berapa puluh orang seperti Pak Hakim? Iskandar bukanlah manusia pilihan yang bisa mengubah dunia.
*
Kukang kayan sering dijumpai di utara hulu Sungai Mahakam juga selatan Gunung Kinabalu. Cicin gelap di sekitar mata yang bundar, bulu-bulu yang mirip karpet lembut, tatapan yang menyala tapi tidak terlihat berbahaya; Iskandar teringat sepintas hewan itu, dan Pak Hakim. Diliriknya Sadewa. Anak itu terlelap. Mereka dalam penerbangan untuk transit ke Tarakan.
“Sebetulnya kemarin kita ambil satu kukang juga nggak apa.” Sambil mengelus lembut kepala Sadewa yang duduk di kirinya, Sara menyayangkan Iskandar yang berkeras memberi uang seharga dua kukang tanpa mengambil apa pun.
“Kamu merasa rugi?”
“Aku kasihan sama Sadewa. Dia murung dari kemarin.”
“Lebih kasihan lagi kalau kita turuti dia beli kukang.”
“Kukang masih jauh dari punah.”
“Harus menunggu sampai sisa satu-dua ekor?”
Sara tidak tertawa. Masih diusapnya lembut kepala Sadewa. Dipikir-pikir ada benarnya juga Iskandar. Sadewa harus belajar melepaskan, bahwa menyayangi tidak berarti membawa apa yang disayang selalu bersama-sama. Benar kata Iskandar, mencintai kadang soal melepaskan, membiarkan sesuatu berjalan seperti apa adanya. Segalanya perlu berada pada keadaan harmoni.
Iskandar tenggelam dalam permenungan. Kukang hanya satu dari sekian milik alam yang dijadikan komoditas. Manusia sendiri sebenarnya sudah lama jadi budak, majikannya bernama kebutuhan dan keinginan. Mata rantai mana yang bisa diputus untuk mengakhiri kegilaan ini?
Tidak ada.

*dimuat di Harian Rakyat Sultra 20 Agustus 2016

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

hang-heng-hong 3


            semarang, 20 oktober 2017. tiba-tiba dijemput di stasiun oleh seseorang yang pernah dekat denganmu seharusnya masuk dalam daftar kejadian romantis yang ingin kamu alami setidaknya sekali sebelum mati, seandainya saja saat itu kamu tidak sedang berkonsentrasi mencari toilet. kebelet bertinja yang dibumbui kejutan semacam itu bukanlah kombinasi yang baik, berani sumpah demi ptolomeus dan 88 rasi bintangnya. kamu berpikir keras, berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi dan menemukan nama temanmu yang sepanjang hidupnya terjebak dalam melankolia drama di urutan pertama (dan satu-satunya) dalam daftar tersangka. kamu lalu berjanji pada diri sendiri kelak akan melumuri lubang anus temanmu dengan bubuk bon cabe sebagai bentuk pembalasan dendam yang setimpal. kemudian seseorang yang pernah dekat denganmu itu, dengan sikap keramahan seorang kawan lama, menawarkan kosnya untuk tempat singgah, istirahat, dan mandi. karena usus dan isi kepalamu cukup ruwet pagi itu, kamu mengiyakan saja.
            dalam perjalanan menuju kos seseorang yang pernah dekat denganmu (mulai sekarang panggil saja dia dengan nyenyo, karena, ya ampun nyari nama samaran itu sulit sekali) dia bertanya hal-hal rumit seperti; kamu pilih, mau jawa tengah agak ke barat atau sumatera barat. demi rasul dan para pengikutnya! haruskah dalam keadaan darurat bertinja kamu diberi pertanyaan sesulit itu? lagipula, untuk apa? kamu curiga apa pertanyaan ini menyerempet pada pilihan laki-laki yang mesti kamu pilih?
            “jawa tengah agak ke barat?” kamu mengulang pertanyaannya untuk memastikan.
            “yakin?”
sebentar, kamu bukan memberi jawaban. pagi itu kamu dan nyenyo sepertinya sama-sama memiliki masalah jaringan koneksi di kepala. tapi ya bodo amat, kamu iyakan saja. dia lalu menjelaskan maksud pertanyaan itu adalah apakah kamu mau makan di warteg atau rumah makan padang. bisa jadi besok-besok kalau nyenyo ingin menanyakan kamu mau makan masakan oriental atau kontinental, dia akan bilang begini; kamu pilih, keramik dari dinasti ming atau sendok-pisau-garpu perak bekas makan napoleon bonaparte.
warteg ternyata tutup. akhirnya nyenyo membelikan makan untukmu dan teman-teman kosnya di rumah makan padang.
sampai di kos, kamu akhirnya menuntaskan hasrat bertinja kemudian dunia terlihat cerah. masalah bertinjamu beres. selesai bertinja, kamu makan nasi padang yang dibelikan oleh nyenyo. pedas betul. mengingat perutmu yang rawan kontraksi, kamu memutuskan tidak menghabiskan nasi padang.
singkat cerita, siangnya kamu dan nyenyo pergi mengurus satu-dua hal sebelum nyenyo menurunkanmu di museum mandala bakti karena nanti kamu akan menemui temanmu yang lubang anusnya ingin kamu olesi bubuk bon cabe. di sana kamu dan nyenyo menyelesaikan masalah kalian dan kamu berdoa agar perutmu tidak berulah di saat genting begini. nyenyo memungkasi, “berarti sudah jelas, ya. kamu nggak akan ‘narik’ aku lagi.”

            apa yang dimaksud dengan narik aku lagi? kamu mulai khawatir, jangan-jangan wajahmu yang kebelet bertinja tadi pagi terlihat mirip wajah seorang nimpomania yang ingin bercinta dengan dua belas orang sekaligus.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

hang-heng-hong 2

            hal yang membekas dari stasiun balapan solo sebelum dipugar adalah perjumpaan terakhir dengan lik to, ayah pj. aku dan lik to sangat dekat, bahkan dia menganggapku seperti anak sendiri. tidak, ini bukan kisah romantis antara aku dan pj, dan ayahnya jadi semacam mediator (?). bukan yang semacam itu. aku terbiasa berteman dengan laki-laki dan seringnya aku tidak terlibat hal-hal romantis dengan mereka, kecuali dengan ar. ar memiliki naluri melindungi, begitu alamiah, begitu menenangkan. setiap rombongan kami akan memanjat pohon kersen, ar selalu mempersilakanku untuk naik pertama. ar kecil, yang usianya sekitar kelas lima sekolah dasar, mungkin belum mengenal istilah semacam ladies first, tapi dia mengamalkannya. dan kurasa tindakan ar bukan untuk mewujudkan gagasan dari ladies first: pikirannya dulu lebih sederhana, kalau aku naik lebih dulu, seumpama aku jatuh, dia atau anak laki-laki yang lain bisa menolong. dan aku, didorong oleh perasaan terharu, ingin membalas kebaikan ar melalui orang lain; aku mempersilakan adik sepupuku yang laki-laki naik pertama. karena kebaikan ar itulah aku dulu menyukainya.
            jadi, kembali pada stasiun balapan solo dan lik to. sewaktu mengetik ini aku sedang berada di stasiun balapan solo, lalu tiba-tiba ingatanku tentang lik to muncul. ingatan yang terputus, tepat di tengah-tengah adegan: lik to hendak turun dari kereta, dia pamit dan setelah di luar kereta dia sempat melambaikan tangan lagi ke arah jendela keretaku sebelum menghilang ditelan kerumunan. kabar selanjutnya yang kutahu lik to meninggal. tidak bisa kuingat pasti saat itu aku umur berapa atau sudah berapa lama berselang sejak perpisahan terakhirku dan lik to di stasiun balapan solo.

            sebuah tempat, dia adalah totem kenangan yang bisa jadi sangat personal bagi seseorang. aku menyamakan stasiun balapan solo dengan perpisahan terakhirku dan lik to. orang lain mungkin hanya mengingat stasiun ini sebagai judul lagu didi kempot. aku menyamakan ambarrukmo plaza dengan pecahan-pecahan ingatan tentang cappy. orang lain mungkin menganggap mal itu tidak lebih dari pusat perbelanjaan. pemugaran bisa jadi memiliki arti yang sentimentil bagi seseorang, bukan sekadar memperbaiki konstruksi suatu tempat. pemugaran bisa jadi menghilangkan kenangan secara parsial, melenyapkan totem yang menunjukkan ke-ada-an seseorang. kakek kalian mungkin menunjuk ke suatu gedung megah sambil berkata, dulu di sana ada sebuah pohon waru besar, aku bertemu nenekmu di sana saat mengejar layangan putus. dengan adanya gedung baru, saksi pertemuan yang kemudian mengantarkanmu lahir ke dunia sudah hilang. aku tidak bilang bahwa semua pembangunan, pemugaran, itu jahat, buruk, dan tak berperasaan. tapi tentu itu mengubah sesuatu. sewaktu melihat stasiun balapan solo sekarang, aku tidak lagi melihat lik to sejelas aku melihatnya sebelum stasiun ini dipugar.

31 agustus 2017 sekitar pukul 9 malam.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

hang-heng-hong (cerpen)


            sewaktu melihat dua anak kucingku berciuman, aku bertanya-tanya; apa yang sesungguhnya mereka rasakan ketika berciuman itu, maksudku apa yang mendorong mereka untuk berciuman. kupikir apa motivasi yang membuat dua kucing berciuman tidaklah sama dengan apa motivasi yang menggerakkan dua manusia berciuman (berciuman memang biasanya interaksi antara dua hal, dua kucing, dua manusia, satu kucing dan satu manusia. meski dalam pesta orgi bisa saja beberapa pasangan gantian berciuman tapi lucu rasanya kalau ada lima orang menempelkan bibir secara bersamaan, sekaligus. jangan, tidak perlu dibayangkan). rasa penasaran ini kurang-lebih sama dengan rasa penasaran rosa, tokoh rekaanku, yang bertanya-tanya bagaimana krim siang mampu mengenali siang atau mengenali dirinya sebagai krim siang. meski kedua jenis pertanyaan itu, pertanyaanku dan pertanyaan rosa, menuntut jawaban dari dua jenis (?) gagasan (???) yang berbeda, tapi keduanya sama-sama mempertanyakan kesadaran subjek selain manusia.
            jika kujawab hal yang menggerakkan kedua anak kucingku berciuman adalah cinta atau persaudaraan atau kasih sayang atau hasrat, aku sesungguhnya tengah memaksakan cara berpikir, cara hidup manusia ke dalam kucing. kurasa ini tidak boleh dan tidak bisa terjadi. jadi kuputuskan untuk mendiskusikan ini bersama rosa. dia, seperti biasa tengah sibuk dengan artikel-artikel pesanan. aku duduk di belakangnya dan dia kelihatan tidak mengacuhkan keberadaanku. aku mulai mengganggunya dengan pertanyaan tentang dua anak kucing yang berciuman yang membuatku gelisah belakangan ini. rosa mulai tampak tertarik; banyak jeda sewaktu dia mengetik kata satu dengan kata lain, kalimat satu dengan kalimat lain.
        beri aku waktu berpikir, pintanya.
ambil sebanyak yang kamu mau. dan aku menunggu.
jawaban macam apa yang kau mau? katanya setelah lama berpikir.
kalau aku tahu, aku nggak perlu tanya kamu.
aku ikut terganggu persoalan lain; jadi, bagaimana realitas di dalam kepala seekor, atau ribuan kucing, bagaimana dia mengenali cinta, mengenali panggilan, mengenali Tuhan. kudengar hewan dan tumbuhan juga beribadah.
seorang dokter hewan pasti bisa menjawab, putusku tiba-tiba. rosa menggeleng, bukan jawaban semacam itu yang kita inginkan, kau tahu itu. kemudian kami sama-sama menyerah. kubiarkan rosa kembali mengetik. tidakkah ini aneh, bisiknya di tengah kegiatan mengetik, kau dan aku berbicara.
di sini aku jadi tokoh fiktif, kamu juga tokoh fiktif, rekaanku. apa yang aneh dari dua tokoh fiktif yang saling berbicara?
tapi kita sedang jadi realitas di kepala orang yang membaca. rosa berhenti mengetik dan memutar tubuhnya kembali, menghadapku.
kamu tidak salah.
pikirkan implikasinya!
impliksi apa?
kau yang nyata melebur menjadi fiktif tapi sebetulnya juga sedang menjadi kenyataan di dalam kepala orang-orang yang membaca kita! kau adalah kenyataan yang berubah jadi fiktif tapi kisah fiktif ini sedang jadi kenyataan di dalam kepala orang-orang.
temanku akan dengan senang hati menudingmu, vous compliquez la vie!
tapi bagaimana bila yang membaca kita adalah seekor kucing?
vous vous compliquez la vie.
kau yang memancing.
sementara rosa kembali menulis, aku melamunkan kejadian beberapa bulan yang lalu, ketika kucing betinaku sedang berahi. ada tujuh kucing jantan bertandang ke rumah. aku bisa menyebutnya pesta orgi kucing besar-besaran, imoral, tak beradab. tapi pertanyaanku sekali lagi berhenti di tempat yang sama, bagaimana seekor kucing melihat seks, merasakan berahi, dan merasakan klimaks. temanku akan dengan senang hati menudingku, jari telunjuknya persis ke arah kening, vous compliquez la vie.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

A SERBIAN FILM; MEMBONGKAR EROTIKA PALSU DALAM SINEMA (ULASAN)


            Beberapa kali saya merekomendasikan A Serbian Film pada satu-dua teman. Biasanya mereka menyerah dan bilang ini film yang mengerikan dan menjijikkan. Dan mereka benar. Film ini memang brutal dan penuh adegan kekerasan. Tapi bukan itu yang membuat saya merekomendasikan film ini. Saya bukan penggemar hal-hal berbau sadomasokisme. Saya tidak percaya orang normal bisa orgasme kalau kepalanya dibenturkan ke dinding sampai remuk dan berdarah-darah, atau terangsang karena melihat payudara atau penis yang terpotong secara vulgar. Masokisme adalah penyakit. Sadisme adalah penyakit. Dan tidak ada hal keren dari film-film BDSM.
            Saya menonton A Serbian Film sekitar pertengahan tahun lalu dan malam ini menonton ulang sedikit demi menulis ulasan ini. A Serbian Film bercerita tentang Milos, aktor film porno yang hampir pensiun tapi kemudian disewa lagi oleh seorang sutradara, Vukmir. Atas pertimbangan kondisi keuangan keluarga yang menyedihkan, Milos menerima tawaran itu. Sayangnya, proyek film kali ini agak ngawur dan membuat Milos beberapa kali ingin mundur.
            Sebagian orang bilang film ini mendukung nekrofilia dan pedofilia, karena dalam adegan film yang dimainkan Milos ada persetubuhan dengan mayat dan melibatkan fantasi seksual dengan anak-anak (perempuan). Menurut saya, meski mengandung adegan seks eksplisit, film ini justru membuat orang merasa jijik pada kekerasan seksual, terbukti dari teman-teman yang menyerah menonton film ini. Penyiksaan dan kekerasan seksual dalam A Serbian Film tidak ditujukan untuk mendukung argumen bahwa perempuan menikmati disakiti dan/atau diperkosa. Dedek mah maunya disayang, Bang... #halahVar
            Mari kita lihat definisi pornografi oleh Dworkin dan MacKinnon (1998), yang saya catut dan terjemahkan dari buku Lectures of Psychology of Women, bab 19 Women and Pornography:
 “Pornografi adalah subordinasi perempuan yang eksplisit secara seksual, digambarkan secara grafis, baik dalam gambar-gambar maupun kata-kata, yang juga termasuk satu atau lebih hal-hal berikut: (i) perempuan dipresentasikan secara tidak manusiawi sebagai objek seksual, benda, atau komoditas; atau (ii) perempuan dipresentasikan sebagai objek seksual yang menikmati kesakitan dan penghinaan, atau (iii) perempuan dipresentasikan sebagai objek seksual yang mengalami kepuasan seksual dengan cara diperkosa; atau (iv) perempuan dipresentasikan sebagai objek seksual yang diikat, dipotong, dimutilasi, dihajar, atau disakiti secara fisik; atau (v) perempuan dipresentasikan dalam postur atau posisi seks submisif; atau (vi) bagian tubuh perempuan—termasuk tapi tidak terbatas pada vagina, dada, atau bokong—dipamerkan seakan perempuan hanyalah bagian itu saja; atau (vii) perempuan dipresentasikan sebagai pelacur secara bawaan; atau (viii) perempuan dipresentasikan sedang dipenetrasi oleh benda atau binatang; atau (ix) perempuan dipresentasikan dalam sebuah skenario degradasi, kesakitan, penganiayaan, penyiksaan, ditunjukkan sebagai kekotoran atau inferior, berdarah-darah, memar, atau disakiti dalam konteks yang membuat hal-hal ini terlihat seksual. (hlm. 101)"
*)sejak ini mari kita bedakan antara film porno dan film erotis.

            Sepintas, semua unsur-unsur pornografi memang ada di A Serbian Film. Tetapi tokoh utama sendiri, Milos, merasa jengah atas adegan-adegan di film (dalam film) yang harus dia mainkan. Bisa dilihat pada menit 43:10 sampai 44:35 Milos kelihatan keberatan atas suruhan menghajar perempuan di depan anak-anak, apalagi hanya demi sebuah film (yang dia kira hanya sebatas film) erotis. A Serbian Film seakan mau membongkar bagaimana proses di balik layar pembuatan film-film porno dengan adegan seksual eksplisit yang dibumbui kekerasan dan hal-hal konyol lain.
            Atas tuduhan mendukung nekrofilia dan pedofilia, jelas bisa dibantah dari penggunaan dopping untuk membuat Milos tidak sadar sedang menyetubuhi mayat dan dari ekspresi keberatan Milos setiap sosok anak kecil muncul di film yang sedang dia bintangi.
            Tidak cukup sampai di situ, Milos pun kena nasib buruk demi sebuah film porno yang kata sutradaranya, Vukmir, akan menjadi sebuah film porno artistik. Sepanjang film terlihat pertentangan antara konsep film erotis di kepala Milos, seperti yang selama ini dia bintangi, dengan konsep film porno artistik seperti yang Vukmir inginkan.
            Bisa kita bandingkan pula antara film erotis dengan film porno, dari (film tentang) kehidupan Milos dengan film (yang sedang) diperankan oleh Milos. Film yang diperankan Milos mengandung hampir sembilan poin definisi pornografi oleh Dworkin dan MacKinnon, sedang kehidupan Milos dengan istrinya, Marija, memperlihatkan seks dengan kesepakatan (consenting sex). Di awal-awal film memang sempat ada adegan Marija ‘menantang’ Milos, sih; dan Marija sempat menangis karena perlakuan kasar Milos yang tiba-tiba. Tapi setelahnya, selama film berjalan, hubungan Milos dan Marija merupakan hubungan suami-istri sepatutnya.
            Akhir film ini begitu brutal, tragis, dan nihilistik; Milos, dalam keguncangan dan kehilangan harapan yang begitu kentara, memutuskan untuk menembak mati diri dan keluarganya. 

          Coba film lain yang menurutku memuat pesan yang sama tentang pornografi dan pemerkosaan: Irreversible (2002) dan trilogi The Girl With The Dragon Tatto versi Swedia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS