hang-heng-hong 2

            hal yang membekas dari stasiun balapan solo sebelum dipugar adalah perjumpaan terakhir dengan lik to, ayah pj. aku dan lik to sangat dekat, bahkan dia menganggapku seperti anak sendiri. tidak, ini bukan kisah romantis antara aku dan pj, dan ayahnya jadi semacam mediator (?). bukan yang semacam itu. aku terbiasa berteman dengan laki-laki dan seringnya aku tidak terlibat hal-hal romantis dengan mereka, kecuali dengan ar. ar memiliki naluri melindungi, begitu alamiah, begitu menenangkan. setiap rombongan kami akan memanjat pohon kersen, ar selalu mempersilakanku untuk naik pertama. ar kecil, yang usianya sekitar kelas lima sekolah dasar, mungkin belum mengenal istilah semacam ladies first, tapi dia mengamalkannya. dan kurasa tindakan ar bukan untuk mewujudkan gagasan dari ladies first: pikirannya dulu lebih sederhana, kalau aku naik lebih dulu, seumpama aku jatuh, dia atau anak laki-laki yang lain bisa menolong. dan aku, didorong oleh perasaan terharu, ingin membalas kebaikan ar melalui orang lain; aku mempersilakan adik sepupuku yang laki-laki naik pertama. karena kebaikan ar itulah aku dulu menyukainya.
            jadi, kembali pada stasiun balapan solo dan lik to. sewaktu mengetik ini aku sedang berada di stasiun balapan solo, lalu tiba-tiba ingatanku tentang lik to muncul. ingatan yang terputus, tepat di tengah-tengah adegan: lik to hendak turun dari kereta, dia pamit dan setelah di luar kereta dia sempat melambaikan tangan lagi ke arah jendela keretaku sebelum menghilang ditelan kerumunan. kabar selanjutnya yang kutahu lik to meninggal. tidak bisa kuingat pasti saat itu aku umur berapa atau sudah berapa lama berselang sejak perpisahan terakhirku dan lik to di stasiun balapan solo.

            sebuah tempat, dia adalah totem kenangan yang bisa jadi sangat personal bagi seseorang. aku menyamakan stasiun balapan solo dengan perpisahan terakhirku dan lik to. orang lain mungkin hanya mengingat stasiun ini sebagai judul lagu didi kempot. aku menyamakan ambarrukmo plaza dengan pecahan-pecahan ingatan tentang cappy. orang lain mungkin menganggap mal itu tidak lebih dari pusat perbelanjaan. pemugaran bisa jadi memiliki arti yang sentimentil bagi seseorang, bukan sekadar memperbaiki konstruksi suatu tempat. pemugaran bisa jadi menghilangkan kenangan secara parsial, melenyapkan totem yang menunjukkan ke-ada-an seseorang. kakek kalian mungkin menunjuk ke suatu gedung megah sambil berkata, dulu di sana ada sebuah pohon waru besar, aku bertemu nenekmu di sana saat mengejar layangan putus. dengan adanya gedung baru, saksi pertemuan yang kemudian mengantarkanmu lahir ke dunia sudah hilang. aku tidak bilang bahwa semua pembangunan, pemugaran, itu jahat, buruk, dan tak berperasaan. tapi tentu itu mengubah sesuatu. sewaktu melihat stasiun balapan solo sekarang, aku tidak lagi melihat lik to sejelas aku melihatnya sebelum stasiun ini dipugar.

31 agustus 2017 sekitar pukul 9 malam.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

hang-heng-hong (cerpen)


            sewaktu melihat dua anak kucingku berciuman, aku bertanya-tanya; apa yang sesungguhnya mereka rasakan ketika berciuman itu, maksudku apa yang mendorong mereka untuk berciuman. kupikir apa motivasi yang membuat dua kucing berciuman tidaklah sama dengan apa motivasi yang menggerakkan dua manusia berciuman (berciuman memang biasanya interaksi antara dua hal, dua kucing, dua manusia, satu kucing dan satu manusia. meski dalam pesta orgi bisa saja beberapa pasangan gantian berciuman tapi lucu rasanya kalau ada lima orang menempelkan bibir secara bersamaan, sekaligus. jangan, tidak perlu dibayangkan). rasa penasaran ini kurang-lebih sama dengan rasa penasaran rosa, tokoh rekaanku, yang bertanya-tanya bagaimana krim siang mampu mengenali siang atau mengenali dirinya sebagai krim siang. meski kedua jenis pertanyaan itu, pertanyaanku dan pertanyaan rosa, menuntut jawaban dari dua jenis (?) gagasan (???) yang berbeda, tapi keduanya sama-sama mempertanyakan kesadaran subjek selain manusia.
            jika kujawab hal yang menggerakkan kedua anak kucingku berciuman adalah cinta atau persaudaraan atau kasih sayang atau hasrat, aku sesungguhnya tengah memaksakan cara berpikir, cara hidup manusia ke dalam kucing. kurasa ini tidak boleh dan tidak bisa terjadi. jadi kuputuskan untuk mendiskusikan ini bersama rosa. dia, seperti biasa tengah sibuk dengan artikel-artikel pesanan. aku duduk di belakangnya dan dia kelihatan tidak mengacuhkan keberadaanku. aku mulai mengganggunya dengan pertanyaan tentang dua anak kucing yang berciuman yang membuatku gelisah belakangan ini. rosa mulai tampak tertarik; banyak jeda sewaktu dia mengetik kata satu dengan kata lain, kalimat satu dengan kalimat lain.
        beri aku waktu berpikir, pintanya.
ambil sebanyak yang kamu mau. dan aku menunggu.
jawaban macam apa yang kau mau? katanya setelah lama berpikir.
kalau aku tahu, aku nggak perlu tanya kamu.
aku ikut terganggu persoalan lain; jadi, bagaimana realitas di dalam kepala seekor, atau ribuan kucing, bagaimana dia mengenali cinta, mengenali panggilan, mengenali Tuhan. kudengar hewan dan tumbuhan juga beribadah.
seorang dokter hewan pasti bisa menjawab, putusku tiba-tiba. rosa menggeleng, bukan jawaban semacam itu yang kita inginkan, kau tahu itu. kemudian kami sama-sama menyerah. kubiarkan rosa kembali mengetik. tidakkah ini aneh, bisiknya di tengah kegiatan mengetik, kau dan aku berbicara.
di sini aku jadi tokoh fiktif, kamu juga tokoh fiktif, rekaanku. apa yang aneh dari dua tokoh fiktif yang saling berbicara?
tapi kita sedang jadi realitas di kepala orang yang membaca. rosa berhenti mengetik dan memutar tubuhnya kembali, menghadapku.
kamu tidak salah.
pikirkan implikasinya!
impliksi apa?
kau yang nyata melebur menjadi fiktif tapi sebetulnya juga sedang menjadi kenyataan di dalam kepala orang-orang yang membaca kita! kau adalah kenyataan yang berubah jadi fiktif tapi kisah fiktif ini sedang jadi kenyataan di dalam kepala orang-orang.
temanku akan dengan senang hati menudingmu, vous compliquez la vie!
tapi bagaimana bila yang membaca kita adalah seekor kucing?
vous vous compliquez la vie.
kau yang memancing.
sementara rosa kembali menulis, aku melamunkan kejadian beberapa bulan yang lalu, ketika kucing betinaku sedang berahi. ada tujuh kucing jantan bertandang ke rumah. aku bisa menyebutnya pesta orgi kucing besar-besaran, imoral, tak beradab. tapi pertanyaanku sekali lagi berhenti di tempat yang sama, bagaimana seekor kucing melihat seks, merasakan berahi, dan merasakan klimaks. temanku akan dengan senang hati menudingku, jari telunjuknya persis ke arah kening, vous compliquez la vie.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

A SERBIAN FILM; MEMBONGKAR EROTIKA PALSU DALAM SINEMA (ULASAN)


            Beberapa kali saya merekomendasikan A Serbian Film pada satu-dua teman. Biasanya mereka menyerah dan bilang ini film yang mengerikan dan menjijikkan. Dan mereka benar. Film ini memang brutal dan penuh adegan kekerasan. Tapi bukan itu yang membuat saya merekomendasikan film ini. Saya bukan penggemar hal-hal berbau sadomasokisme. Saya tidak percaya orang normal bisa orgasme kalau kepalanya dibenturkan ke dinding sampai remuk dan berdarah-darah, atau terangsang karena melihat payudara atau penis yang terpotong secara vulgar. Masokisme adalah penyakit. Sadisme adalah penyakit. Dan tidak ada hal keren dari film-film BDSM.
            Saya menonton A Serbian Film sekitar pertengahan tahun lalu dan malam ini menonton ulang sedikit demi menulis ulasan ini. A Serbian Film bercerita tentang Milos, aktor film porno yang hampir pensiun tapi kemudian disewa lagi oleh seorang sutradara, Vukmir. Atas pertimbangan kondisi keuangan keluarga yang menyedihkan, Milos menerima tawaran itu. Sayangnya, proyek film kali ini agak ngawur dan membuat Milos beberapa kali ingin mundur.
            Sebagian orang bilang film ini mendukung nekrofilia dan pedofilia, karena dalam adegan film yang dimainkan Milos ada persetubuhan dengan mayat dan melibatkan fantasi seksual dengan anak-anak (perempuan). Menurut saya, meski mengandung adegan seks eksplisit, film ini justru membuat orang merasa jijik pada kekerasan seksual, terbukti dari teman-teman yang menyerah menonton film ini. Penyiksaan dan kekerasan seksual dalam A Serbian Film tidak ditujukan untuk mendukung argumen bahwa perempuan menikmati disakiti dan/atau diperkosa. Dedek mah maunya disayang, Bang... #halahVar
            Mari kita lihat definisi pornografi oleh Dworkin dan MacKinnon (1998), yang saya catut dan terjemahkan dari buku Lectures of Psychology of Women, bab 19 Women and Pornography:
 “Pornografi adalah subordinasi perempuan yang eksplisit secara seksual, digambarkan secara grafis, baik dalam gambar-gambar maupun kata-kata, yang juga termasuk satu atau lebih hal-hal berikut: (i) perempuan dipresentasikan secara tidak manusiawi sebagai objek seksual, benda, atau komoditas; atau (ii) perempuan dipresentasikan sebagai objek seksual yang menikmati kesakitan dan penghinaan, atau (iii) perempuan dipresentasikan sebagai objek seksual yang mengalami kepuasan seksual dengan cara diperkosa; atau (iv) perempuan dipresentasikan sebagai objek seksual yang diikat, dipotong, dimutilasi, dihajar, atau disakiti secara fisik; atau (v) perempuan dipresentasikan dalam postur atau posisi seks submisif; atau (vi) bagian tubuh perempuan—termasuk tapi tidak terbatas pada vagina, dada, atau bokong—dipamerkan seakan perempuan hanyalah bagian itu saja; atau (vii) perempuan dipresentasikan sebagai pelacur secara bawaan; atau (viii) perempuan dipresentasikan sedang dipenetrasi oleh benda atau binatang; atau (ix) perempuan dipresentasikan dalam sebuah skenario degradasi, kesakitan, penganiayaan, penyiksaan, ditunjukkan sebagai kekotoran atau inferior, berdarah-darah, memar, atau disakiti dalam konteks yang membuat hal-hal ini terlihat seksual. (hlm. 101)"
*)sejak ini mari kita bedakan antara film porno dan film erotis.

            Sepintas, semua unsur-unsur pornografi memang ada di A Serbian Film. Tetapi tokoh utama sendiri, Milos, merasa jengah atas adegan-adegan di film (dalam film) yang harus dia mainkan. Bisa dilihat pada menit 43:10 sampai 44:35 Milos kelihatan keberatan atas suruhan menghajar perempuan di depan anak-anak, apalagi hanya demi sebuah film (yang dia kira hanya sebatas film) erotis. A Serbian Film seakan mau membongkar bagaimana proses di balik layar pembuatan film-film porno dengan adegan seksual eksplisit yang dibumbui kekerasan dan hal-hal konyol lain.
            Atas tuduhan mendukung nekrofilia dan pedofilia, jelas bisa dibantah dari penggunaan dopping untuk membuat Milos tidak sadar sedang menyetubuhi mayat dan dari ekspresi keberatan Milos setiap sosok anak kecil muncul di film yang sedang dia bintangi.
            Tidak cukup sampai di situ, Milos pun kena nasib buruk demi sebuah film porno yang kata sutradaranya, Vukmir, akan menjadi sebuah film porno artistik. Sepanjang film terlihat pertentangan antara konsep film erotis di kepala Milos, seperti yang selama ini dia bintangi, dengan konsep film porno artistik seperti yang Vukmir inginkan.
            Bisa kita bandingkan pula antara film erotis dengan film porno, dari (film tentang) kehidupan Milos dengan film (yang sedang) diperankan oleh Milos. Film yang diperankan Milos mengandung hampir sembilan poin definisi pornografi oleh Dworkin dan MacKinnon, sedang kehidupan Milos dengan istrinya, Marija, memperlihatkan seks dengan kesepakatan (consenting sex). Di awal-awal film memang sempat ada adegan Marija ‘menantang’ Milos, sih; dan Marija sempat menangis karena perlakuan kasar Milos yang tiba-tiba. Tapi setelahnya, selama film berjalan, hubungan Milos dan Marija merupakan hubungan suami-istri sepatutnya.
            Akhir film ini begitu brutal, tragis, dan nihilistik; Milos, dalam keguncangan dan kehilangan harapan yang begitu kentara, memutuskan untuk menembak mati diri dan keluarganya. 

          Coba film lain yang menurutku memuat pesan yang sama tentang pornografi dan pemerkosaan: Irreversible (2002) dan trilogi The Girl With The Dragon Tatto versi Swedia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kepasrahan dan Takdir (Tjorad-Tjored)


            Sewaktu aku bicara soal kepasrahan, kepasrahan yang kumaksud bukanlah suatu sikap tidak berdaya dan putus asa. Aku bicara tentang kepasrahan yang lahir dari pemikiran yang lurus, dari pemikiran rasional, yang hadir karena kita memilih bersikap demikian. Dua buku berat yang (sok) kubaca belakangan secara kebetulan memuat dua gagasan ini; Fear and Trembling karangan Kierkegaard dan Filsafat Hidup Bahagia karangan Russell. Gagasan keduanya hampir senapas. Dan aku sepakat.
            Sebelum melangkah lebih jauh, kukira pemikiran yang akan kutulis berikut sebetulnya sudah banyak terlintas di kepala jutaan orang, dan alasan aku menuliskan hal begini bukan karena aku merasa akulah satu-satunya yang berpikir begini—ada banyak orang yang berpikir begini bahkan jauh lebih dalam dari ini. Aku menulis semata demi mencatat proses berpikirku sendiri. Sungguh, semoga aku tidak termasuk orang celaka yang merasa diri sendiri dibebani banyak pikiran melebihi orang lain. Aku perlu menjelaskan soal ini, sebagai pengingat diri juga sebagai bentuk tanggung jawab atas kata-kataku (meski pemaknaan kalian tetap tidak bisa kukendalikan).
            Aku pernah ditanya seseorang kenapa aku salat. Kujawab ya karena begitulah perintah Tuhan, begitulah kewajiban dalam agamaku. Dia mungkin berpikir pandangan ini dangkal, tapi buatku di situlah logika mesti bermuara. Aku meminjam contoh yang dipakai Kierkegaard, kepasrahan Abraham atas Isaac untuk disembelih; Abraham tidak mengerti mengapa putranya mesti disembelih atau apa alasan Tuhan mengujinya sedemikian rupa (kita mungkin punya ribuan dugaan soal ini tapi sebelum kita bisa sungguhan mengobrol dengan Tuhan, dugaan ini hanyalah dugaan gegabah dan terburu-buru), tapi toh Abraham bersikap pasrah melaksanakan kewajibannya memenuhi perintah Tuhan. Aku sendiri berpikir bahwa nalar Tuhan tidak dapat dijangkau, jadi percuma mencari-cari alasan mengapa Tuhan menginginkan kita begini atau begitu. Alasan-alasan itu ada untuk menenangkan diri kita belaka. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di pikiran Tuhan.
            Dan sikap pasrah berbeda jauh dengan berdiam mengikut ke mana arus membawa kita pergi. Seseorang yang lain pernah bertanya apakah seorang manusia mesti pasrah ketika Tuhan menuliskan takdirnya untuk menjadi orang yang berdosa. Kepasrahan semacam ini kurasa salah dan tidak ada. Aku pernah menantang diri sendiri, benarkah takdir berbuat dosa dirancang Tuhan dan kita tidak punya kuasa melawan dan mesti bersikap pasrah (yang putus asa). Dalam perjalanan menuju perbuatan dosa yang kupilih, aku menangis. Beberapa pertanyaan terbersit, termasuk pertanyaan soal takdir, kepasrahan, dan arti dosa*) itu sendiri. Dalam perjalanan itu aku sungguhan merasakan Tuhan dua kali menyediakan pilihan; aku punya kesempatan dua kali untuk menghindari situasi tersebut. Tuhan tidak memaksaku (melalui satu atau serangkaian peristiwa yang tidak bisa kuhindari untuk membawaku ke suatu keadaan tertentu) untuk memasuki situasi tersebut, tidak pula memaksaku untuk pergi dari situasi tersebut. Tuhan hanya memberikan jalan, Tuhan memberikan pilihan. Dan aku sepenuhnya bisa merasakan, menyadari pilihan-pilihan itu.
Pada akhirnya, dengan sedikit sembrono, aku menyimpulkan kepasrahan akan ‘takdir berbuat dosa’ hanyalah untuk menutup-nutupi ketidaksadaran kita atas perbuatan dosa yang kita lakukan. Ketika segala sesuatunya sudah dilakukan dengan sadar, kepasrahan akan dosa itu tidak ada; sebab dosa kita sendiri yang memilih. Tulisan ini di luar topik apakah dosa akan membawa ke neraka atau apakah perbuatan baik tidak bisa menghindarkan kita dari neraka (ada yang bilang bahwa masuknya manusia ke neraka/surga sudah ditetapkan Tuhan dan bagaimana kita bersikap tidak ada pengaruh atas ketetapan Tuhan tersebut). Untuk menyikapi ketetapan ini, kita perlu bersikap pasrah, sesuai pengertian kepasrahan yang lahir dari pemikiran lurus; atau kita perlu meminjam sikap pasrah para mistikus (perlu dicatat bahwa kepasrahan yang mistis pun berbeda dengan kepasrahan yang putus asa). Sekali lagi menyadari bahwa nalar Tuhan tidak bisa kita jangkau.
Dan karena kepasrahan mesti diawali dengan menetapkan suatu pilihan, dengan mencapai kesadaran berpikir, maka kepasrahan menjadi sesuatu yang sulit sekaligus mudah. Sulit karena kita mesti mencapai titik sadar dan memilih memikul tanggung jawab dengan melihat konsekuensi dari setiap pilihan; mudah karena setelah proses itu semua, kita tahu memang inilah yang kita pilih jadi kita bisa sampai pada kepasrahan total.
Dan karena kepasrahan mesti diawali dengan menetapkan suatu pilihan, maka kepasrahan bukanlah suatu sikap menceburkan diri secara serampangan dalam pilihan-pilihan yang kita tidak tahu. Sikap ceroboh dan putus asa ini bukanlah kepasrahan yang aku maksud.
Selanjutnya, bagaimana dengan pilihan yang terbatas, seperti mempunyai ibu seorang pemabuk dengan tempramen buruk? Kita tidak punya kuasa mengubah (atau memilih) ibu/bapak kita. Dan pada posisi ini, kita terpaksa bersikap pasrah yang putus asa, sambil menekan perasaan marah karena merasa tidak berdaya mengubah takdir. Benarkah?
Pilihan kita sebetulnya bebas tanpa batas, hanya terkadang berbeturan dengan pilihan orang lain; dalam hal ini pilihan seorang anak terbentur karena pilihan seorang ibu. Setiap orang punya pilihan masing-masing, dan setiap orang bebas memilih yang mana pun, dan setiap pilihan memiliki konsekuensi. Dari sudut pandang si Anak Tak Berdaya ini, mari berganti subjek jadi si Ibu Tempramen. Ibu Tempramen ini pastilah juga manusia yang punya pilihan-pilihan. Sebagai manusia, kewajiban sekaligus haknya adalah memilih pilihan secara sadar. Tapi tidak semua manusia mampu berbuat demikian (mencapai kesadaran bukanlah hal yang mudah). Ibu Tempramen ini, dengan sikap pasrah yang salah, memilih menjadi seorang eskapis melalui minuman keras, barangkali karena dia tidak melihat adanya pilihan yang lain selain mengonsumsi minuman keras atau obat-obatan terlarang. Tapi tentu sebelumnya dia pasti punya pilihan, kalau saja dia mau melihat segala hal dengan kesadaran, untuk menghadapi masalahnya tanpa minuman keras. Pilihan si Ibu Tempramen inilah yang jadi pembatas pilihan si Anak Tak Berdaya. Seandainya dia bukan pemabuk, pastilah si Anak Tak Berdaya mempunyai ‘ibu yang lain’.
Takdir yang sudah melibatkan orang lain begini mau tidak mau bersinggungan dengan kausalitas, dengan permainan sebab-akibat; dengan probabilitas; dengan hal lain yang kompleks. Karena kerumitan inilah kita seakan melihat pilihan itu terbatas. Anak, sampai pada umur tertentu memang memiliki keterbatasan pilihan (seperti pilihan nama, agama, gender) itu karena dia belum mencapai kesadaran. Terlepas dari kondisi ketetapan biologis/morfologis (struktur tulang, ras, DNA, dll), pilihan anak menjadi tak terbatas setelah dia mencapai kesadaran; seperti boleh memilih mengganti nama, memilih gender (laki-laki, perempuan, atau queer), atau berpindah agama. Bahkan pilihan untuk mendapat orang tua seperti apa (bukan perkara fisik), bisa diupayakan dengan mencoba berdialog dengan orang tua agar ibu/bapaknya berubah, sehingga dia tidak perlu menekan rasa marah dan merasa tidak berdaya atas sifat/sikap kedua orang tuanya.
Meski kubilang kita punya pilihan tak terbatas, kita juga punya hal yang tidak bisa masuk ke dalam daftar pilihan untuk dipilih. Kita mungkin mengubah karakter dan/atau kondisi fisik (dengan operasi plastik misal) ibu/bapak kita, tapi kita tidak mungkin mengganti mereka dengan orang lain dan berharap dari merekalah sebetulnya kita lahir. Ini pulalah yang (seakan) menjadi batas pilihan kita. Akibat hampir mustahil memilih sebab. Tapi perubahan kombinasi sebab tentu akan melahirkan akibat yang berbeda. Maka pilihan yang ada di akibat, tergantung dan terbatas dari pilihan yang sebelumnya dipilih sebab.
Dengan menyadari hal-hal inilah, akibat mestinya bersikap pasrah, bukan pasrah karena merasa tidak berdaya menerima sesuatu yang terlihat seperti ketetapan takdir.


*) Arti dosa pingin kutulis lain kali. Kalau nggak malas ha-ha.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Masih Soal Cappy (Catatan)

            Sewaktu kamu tanya apa aku masih di Jogja, aku sebetulnya mau jawab dengan jawaban yang lebih dramatis. Aku masih di Jogja. Aku masih suka crepes. Aku masih suka crepes rasa cokelat-kacang. Aku masih suka warna merah dan hitam. Aku masih mendengarkan musik yang menurutmu ‘apa sih bagusnya lagu teriak-teriak begitu’. Aku masih bertahan di hobi-hobiku berkat dukunganmu dulu. Aku masih menyimpan semua struk makan kita, entah untuk apa. Aku masih hapal kalau mamamu suka swikee dan Pempek Nyonya Kamto. Aku masih...
           Sewaktu aku tahu kamu remuk dan berusaha menguatkan diri di medsos-mu, dan aku berusaha untuk tidak menyangkal bahwa aku mungkin menjadi salah satu penyebabnya, sebetulnya aku mau ngajak kamu ketemu. Aku mau minta maaf. Aku mau menjelaskan banyak hal. Aku mau drama ini selesai. Aku mau bilang, kalau kamu butuh aku, kamu tinggal minta aku datang. Aku mau bilang kalau aku sangat ingin menebus banyak dosa.
           Tapi kita sama-sama pecundang, Cappy.
           Tanggal 30 April aku pergi ke Tamansari Ambarukmo Plaza. Duduk di sisi utara, memandang ke arah selatan, tempat kita biasa duduk. Waktu itu aku tersenyum karena merasa sudah bisa melepaskan semuanya. Dan yakin kamu sudah bahagia.
            Tanggal 1 Mei kamu balas DM-ku satu tahun yang lalu. Tanggal itu juga kamu unggah foto di medsos bahwa kamu benci perpisahan, bahwa kamu menguatkan diri untuk terus berjalan. Tanggal itu juga aku akhirnya tahu kita masih sama-sama terjebak dalam tanda tanya besar. Akhirnya aku tahu prinsip nggak akan mengulang sesuatu dengan orang yang sama yang kita pegang itu cuma cara kita menipu diri sendiri. Kita tahu kita sangat menginginkan itu. Meski kita juga tahu itu nggak mungkin.

            Tapi, Cappy, kamu betul. Kita mesti terus jalan. Tapi, Cappy, kamu juga harus tahu kalau terus berjalan bukan berarti menyangkal segala yang pernah terjadi di belakang. Pesanku selalu sama, Cappy, selalu sama: kamu bukan gay, kamu bukan banci, kamu laki-laki paling baik yang pernah aku kenal. Cobalah lihat perempuan cantik yang selalu sama kamu itu. Dia cinta sama kamu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kang Kiki, Mandul, dan Poligami (Ocehan)


            Beberapa hari yang lalu aku mampir ke kantor Basabasi, siang-siang. Di sana ada bang Reza, Wawan, dan Kang Kiki. Sempat ada Mini GK tapi terus dia pergi menemui kakak-kakak berbahu kokoh entah siapa. Sore menjelang pulang, entah bagaimana mulanya, Kang Kiki tanya ke aku, “Far, semisal setelah kamu menikah terus kamu ketahuan mandul dan suamimu mau poligami, kira-kira dibolehin apa enggak?”
            Aku diam. Mikir cukup lama. Andai pertanyaan ini diajukan sebelum November 2016, aku pasti jawab silakan silakan saja, toh aku nggak kebayang mau nikah sama siapa dan bisa saja aku nikah tanpa cinta. Sekarang, pertanyaan itu jadi sulit dijawab. Aku memikirkan seseorang. Apa aku rela dia menikah lagi ‘cuma’ karena (misal) aku mandul? Konyol betul rasanya.
            Sempat ada adu argumen sengit karena aku membalikkan pertanyaan itu ke Kang Kiki; bagaimana kalau si laki-laki yang mandul? Apa boleh perempuannya yang pergi atau milih poliandri?
            Jauh di dalam kepalaku muncul banyak pertanyaan lain, apa tujuan menikah hanya (dan hanya) soal reproduksi? Dan bagaimana kita harus memaknai cinta? Jangan alergi dulu. Kita bahas sesuatu yang agung dan megah di sini, cinta dalam makna yang lebih luas, bukan semata cinta yang diwakilkan cokelat atau sekotak kondom.
            Kang Kiki bilang perempuan tidak berada di posisi yang bisa mengajukan tawaran semacam itu. Kenapa, kutanya. Laki-laki berhak poligami sebab kami menafkahi, gitu jawabnya. Kubalas lagi, bagaimana kalau si perempuan juga punya gaji sendiri dan sama besar gajinya sama suami, jadi nafkahnya nggak tergantung sama suami. Kang Kiki bersikeras bahwa perempuan di posisi yang nggak bisa mengajukan tawaran serupa kalau si laki-laki yang mandul.
            Di titik ini, aku teringat Atiq Rahimi. Benarlah bahwa kemandulan hanya akan jadi masalah bagi perempuan; kemandulan, selaput dara yang robek sebelum menikah, inilah dosa yang selalu dan akan selalu ditanggung perempuan tanpa perlu ditarik garis akar permasalahannya dari mana.
            Aku nggak akan berteriak soal feminisme, meski teramat ingin. Persoalan kita seharusnya sudah bergeser. Aku mau kita melihat persoalan ini dari sisi lain. Bagaimana kita mestinya memandang cinta, pernikahan, cinta dalam pernikahan, dan kebahagiaan.
            Mungkin Kang Kiki benar bahwa cinta bisa hilang setelah satu-dua tahun pernikahan, apalagi kalau nggak segera dapat momongan. Kebanyakan orang memang begitu, kan? Tapi pertanyaan selanjutnya, kenapa cinta bisa hilang? Ada dua golongan yang menurutku bisa kehilangan cinta; pesakitan dan orang yang belum mengenal cinta. Cinta itu begitu mistis, dan yang mistis sudah semestinya tidak terjelaskan. Pada wujud cinta paling megah, aku mau mencatut contoh dari Kierkegaard, tentang Ibrahim yang menyerahkan Ishaq (dalam Islam yang diserahkan adalah Ismail) kepada Tuhan tanpa bertanya-tanya lagi, sebuah kepasrahan total. Hanya perintah itu yang dilihat Ibrahim, dan dia menurut. Wujud cinta semacam ini yang sulit diwujudkan manusia, apalagi manusia zaman sekarang; sebab sikap skeptis, dan menginginkan semua dapat terjelaskan secara ‘logis’. Kurasa, kalau level cinta manusia sudah sampai di titik ini, tidak mungkin hilang, cinta kepada siapa atau apa pun.
            Dan, benarkah satu-satunya tujuan menikah adalah keturunan? Ini jawabannya sungguh bebas. Dulu tujuan menikahku (niatnya) buat menyenangkan orangtua saja. Ada juga yang tujuannya biar bisa ‘kawin secara halal’. Bebas, monggo saja. Tapi yang perlu jadi catatan, tujuan menikah ini mestinya disepakati sejak awal oleh kedua pihak. Supaya ketika tujuan mereka menikah tidak tercapai, mereka bisa legawa kalau mesti pisah. Yang jadi masalah adalah, kalau pernikahan ini nggak satu visi; si cewek menikah karena cinta (kita mesti sepakat cinta yang dimaksud di sini adalah cinta dalam wujud paling megah itu tadi), si cowok menikah demi (semata-mata) keturunan. Remuk sudah.
            Apakah kebahagiaan dalam pernikahan hanya (dan hanya) ditentukan oleh keberadaan seorang anak? Aku sendiri nggak terlalu suka anak kecil. Jadi mungkin jelas tujuanku menikah kelak bukan semata soal keturunan. Kebahagiaan pun nggak seharusnya diletakkan di atas hal-hal permukaan macam ini. Kita mesti lepas dari berbagai hal supaya bahagia. Menggantungkan kebahagiaan pada uang, uang bisa habis; pada orang, orang bisa pergi. Apa kebahagiaan dalam pernikahan memang hanya (dan hanya) ada di dalam kehadiran keturunan? Lalu bagaimana kalau yang mandul pihak laki-laki, atau malah pihak laki-laki impoten? Sebetulnya, kurasa sah saja kalau pihak perempuan minta cerai. Tapi, itu tadi, apa iya kita meletakkan standar kebahagiaan hanya pada hal-hal dangkal begitu?
            Pertanyaan Kang Kiki masih mengganggu. Apa aku siap dipoligami kalau aku mandul? Aku teringat seseorang, dan pertanyaan ini bikin gelisah. Aku sedang membayangkan aku menatap matanya dan bilang kalau aku mandul. Aku menunggu reaksinya, tentu dengan was-was.
“Aku percaya sama kamu, Far.”
Kata-kata yang pernah dia bilang suatu pagi muncul. Dia percaya. Dan seharusnya aku juga percaya, kalau suatu hari aku berdiri di depannya dan bilang aku mandul, kurasa dia cuma ketawa, sambil menepuk kepalaku pelan dia bakal bilang, “Terus kenapa?”
Kang Kiki, jawabannya sudah ketemu. Aku percaya sama dia. Aku percaya kalau kami akan punya satu visi, akan sama-sama belajar menjadi manusia, belajar melihat segala sesuatu dari berbagai sisi, belajar merasa. Aku percaya, bahwa nggak semua laki-laki melihat pernikahan sebagai sarana reproduksi semata.

I’m with you when the lights go down
Take my hand, I’m all yours now
I know you’re the only one that would never lead me on

Lifehouse – Only You’re The One

(kasih sontrek biar agak baper hhh~)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerita Tentang Seorang Sopir Bus yang Pernah Kepingin jadi Tuhan - Etgar Keret (Terjemahan)

Diterjemahkan secara serampangan oleh Farrahnanda

            Ini cerita tentang seorang sopir bus yang nggak pernah bukain pintu bus buat orang-orang telat. Nggak satu pun. Nggak buat anak SMA terdesak yang berlari di sisi bus dan menatap penuh harap, dan tentu nggak buat orang-orang emosional dalam balutan jaket tebal yang menggedor pintu seakan mereka sebetulnya tepat waktu dan si sopirlah yang menyalahi jadwal, dan bahkan nggak buat perempuan-perempuan tua mungil dengan kantong belanja cokelat terisi penuh barang belanjaan yang berjuang melambaikan tangan padanya dengan tangan gemetar. Dan itu bukan karena si sopir kejam jadi dia nggak bukain pintu, sebab dia nggak akan sampai hati untuk berbuat keji; ini menyoal ideologi. Ideologi si sopir bilang kalau, anggaplah, keterlambatan gara-gara bukain pintu buat seseorang yang telat belum sampai tiga puluh detik, dan kalau nggak bukain pintu buat orang ini bisa bikin dia kehilangan lima belas menit dalam hidupnya, itu masih lebih baik buat masyarakat, karena tiga puluh detik bakal hilang dari setiap penumpang di bus. Dan kalau ada, anggaplah, enam puluh orang di bus yang nggak bikin salah, dan kesemuanya datang ke halte tepat waktu, mereka secara serentak bakal kehilangan setengah jam, yang mana itu dua kali lipat dari lima belas menit. Inilah satu-satunya alasan dia nggak pernah bukain pintu. Dia tahu kalau penumpangnya sama sekali nggak kepikiran apa alasannya, dan orang-orang yang mengejar bus dan memintanya berhenti juga bingung. Dia juga tahu kalau kebanyakan dari mereka mikir kalau dia cuma seorang bajingan, dan sebetulnya itu bakal jauh, jauh lebih mudah buatnya untuk menaikkan saja mereka ke dalam bus dan mendapat senyum dan ucapan terima kasih.
            Sampai tiba waktunya memilih antara senyuman dan ucapan terima kasih di satu tangan, dan masyarakat yang tertib di tangan satunya, sopir ini tahu harus bagaimana.
            Seseorang yang seharusnya paling menderita gara-gara ideologi si sopir bernama Eddie, tapi nggak kayak orang lain di cerita ini, dia sama sekali nggak berusaha ngejar bus, begitulah betapa pemalas dan nggak bergunanya dia. Sekarang, Eddie jadi pembantu koki di sebuah restoran bernama The Steakaway, yang mana konyolnya si pemilik resto yang bodoh bisa datang sama dia. Makanan di sana cuma makanan rumahan, tapi Eddie sendiri itu cowok yang baik—saking baiknya sampai kadang, waktu sesuatu yang dia bikin nggak seberapa enak, dia bakal antar sendiri ke meja dan minta maaf. Satu dari sekian permintaan maaf itu yaitu pas dia ketemu Kebahagiaan, atau seenggaknya sebuah kesempatan untuk Kebahagiaan, dalam wujud seorang cewek yang sangat baik jadi dia berusaha menghabiskan seluruh porsi daging bakar yang dibawa untuknya, cuma supaya Eddie nggak tersinggung. Dan cewek ini nggak mau kasih tahu namanya atau ngasih Eddie nomor teleponnya, tapi dia cukup baik buat setuju ketemu Eddie hari berikutnya jam lima di sebuah tempat yang sudah mereka sepakati—di tempat pertunjukan lumba-lumba, tepatnya.
            Begini, Eddie punya kondisi ini—keadaan yang sudah bikin dia kehilangan banyak hal dalam hidup. Ini bukan kayak adenoidmu membengkak atau semacamnya, tapi yah, ini sudah bikin dia kacau. Penyakitnya ini selalu bikin dia tertidur dalam sepuluh menit, dan nggak mempan sama alarm apa pun. Itulah kenapa dia telat melulu buat kerja di The Steakaway—itulah, dan gara-gara sopir bus kita, yang selalu memilih ketertiban masyarakat ketimbang kelonggaran bagi perorangan. Kecuali saat ini, karena Kebahagiaan dipertaruhkan, Eddie mencoba mengalahkan kondisi ini, dan alih-alih tidur siang, dia terus melek dan nonton tivi. Buat jaga-jaga, dia bahkan menjetretkan nggak cuma satu, tapi tiga alarm sekaligus, dan mengatur boot untuk membangunkannya. Tapi penyakitnya ini nggak tertolong, dan Eddie bobo begitu saja macam bayi, sembari nonton Saluran Anak-Anak. Dia terbangun kaget dalam lengkingan jutaan trilun alarm—kelewat telat sepuluh menit, buru-buru keluar rumah tanpa berhenti sama sekali, dan lari menuju halte. Dia nggak begitu ingat lagi kayak gimana larinya, dan kakinya terseok-seok setiap melewati trotoar. Terakhir kali dia lari itu sebelum dia ketemu cara buat cabut dari kelas olahraga, sekitar di kelas enam, tapi nggak kayak kelas olahraga dulu, kali ini dia lari macam orang gila, soalnya sekarang dia bakal kehilangan sesuatu, dan semua kesakitan di dadanya dan napas bengek Lucky Strike-nya nggak akan menghalanginya Mengejar Kebahagiaan. Nggak akan ada yang menghalanginya kecuali sopir bus kita, yang sudah menutup pintu dan mulai narik. Si sopir melihat Eddie dari spion depan, tapi seperti yang sudah kita ketahui, dia punya ideologi—ideologi yang masuk akal bahwa, lebih dari segalnya, berpijak pada cinta keadilan dan aritmatika sederhana. Kecuali bahwa Eddie nggak peduli sama aritmatika si sopir. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia teramat ingin sampai ke suatu tempat tepat waktu. Dan itulah kenapa dia terus ngejar bus, meski mustahil. Tiba-tiba, keberuntungan Eddie datang, tapi cuma sebagian; seratus yard dari halte ada lampu merah. Dan, sejenak sebelum bus itu sampai, lampu merah menyala. Eddie berusaha meraih bus dan menyeret dirinya ke pintu sopir. Dia bahkan nggak mengetuk kaca, dia kelewat lemah. Dia cuma menatap sopir berkaca-kaca, dan berlutut, terengah-engah dan bengek. Dan ini mengingatkan si sopir pada sesuatu—sesuatu yang jauh dari masa lalu, dari suatu waktu bahkan sebelum dia kepingin jadi sopir bus, saat dia masih kepingin jadi Tuhan. Ini semacam kenangan menyedihkan soalnya dia nggak jadi Tuhan pada akhirnya, tapi membahagiakan juga, soalnya dia jadi sopir bus, yang mana itu adalah pilihan keduanya. Dan sekonyong-konyong si sopir ingat dia pernah janji ke diri sendiri kalau akhirnya dia jadi Tuhan, dia bakal pemurah dan baik hati, dan akan mendengar semua ciptaan-Nya. Jadi sewaktu dia lihat Eddie dari bangku sopir, berlutut di atas aspal, dia betul-betul nggak bisa tahan, dan terlepas dari ideologinya dan perhitungan aritmatik sederhananya, dia bukain pintu dan Eddie masuk—dan bahkan nggak bilang makasih, dia kehabisan napas.

            Hal-hal baik bakal berhenti terbaca sampai sini, sebab meski Eddie sampai ke pertunjukan lumba-lumba tepat waktu, Kebahagiaan nggak datang, soalnya Kebahagiaan sudah punya cowok. Waktu itu dia cuma kelewat baik jadi nggak sanggup bilang ke Eddie, dan dia memilih buat menghibur Eddie. Eddie menunggunya, di bangku taman yang mereka sepakati, selama hampir dua jam. Sambil duduk dia terus memikirkan berbagai macam pikiran putus asa, dan sembari begitu dia menonton matahari tenggelam, yang teramat cantik, dan mikir betapa bakal mati rasa kakinya nanti. Dalam perjalanan pulang, saat dia terlampau sedih buat balik ke rumah, dia lihat busnya dari jauh, baru sampai halte dan menurunkan penumpang, dan dia tahu meski dia punya tenaga buat lari, dia nggak bakal bisa mengejarnya. Jadi dia terus jalan lambat-lambat, merasakan jutaan otot yang lelah di setiap langkah, dan sewaktu akhirnya sampai di halte, dia lihat bus itu masih di sana, menunggunya. Dan meski pnumpang lain berteriak dan mengomel supaya jalan, si sopir menunggu Eddie, dan dia nggak menyentuh persneling sampai Eddie duduk. Dan sewaktu mereka mulai melaju, dia lihat lewat spion depan dan memberi Eddie kedipan simpati, yang bikin keadaan sedikit lebih baik.



Diambil dari cerpen Etgar Keret yang berjudul The Story About a Bus Driver Who Wanted to Be God, Riverhead Books 2015. Bukunya boleh minjem dari Ifan wqwq

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS