Kang Kiki, Mandul, dan Poligami (Ocehan)


            Beberapa hari yang lalu aku mampir ke kantor Basabasi, siang-siang. Di sana ada bang Reza, Wawan, dan Kang Kiki. Sempat ada Mini GK tapi terus dia pergi menemui kakak-kakak berbahu kokoh entah siapa. Sore menjelang pulang, entah bagaimana mulanya, Kang Kiki tanya ke aku, “Far, semisal setelah kamu menikah terus kamu ketahuan mandul dan suamimu mau poligami, kira-kira dibolehin apa enggak?”
            Aku diam. Mikir cukup lama. Andai pertanyaan ini diajukan sebelum November 2016, aku pasti jawab silakan silakan saja, toh aku nggak kebayang mau nikah sama siapa dan bisa saja aku nikah tanpa cinta. Sekarang, pertanyaan itu jadi sulit dijawab. Aku memikirkan seseorang. Apa aku rela dia menikah lagi ‘cuma’ karena (misal) aku mandul? Konyol betul rasanya.
            Sempat ada adu argumen sengit karena aku membalikkan pertanyaan itu ke Kang Kiki; bagaimana kalau si laki-laki yang mandul? Apa boleh perempuannya yang pergi atau milih poliandri?
            Jauh di dalam kepalaku muncul banyak pertanyaan lain, apa tujuan menikah hanya (dan hanya) soal reproduksi? Dan bagaimana kita harus memaknai cinta? Jangan alergi dulu. Kita bahas sesuatu yang agung dan megah di sini, cinta dalam makna yang lebih luas, bukan semata cinta yang diwakilkan cokelat atau sekotak kondom.
            Kang Kiki bilang perempuan tidak berada di posisi yang bisa mengajukan tawaran semacam itu. Kenapa, kutanya. Laki-laki berhak poligami sebab kami menafkahi, gitu jawabnya. Kubalas lagi, bagaimana kalau si perempuan juga punya gaji sendiri dan sama besar gajinya sama suami, jadi nafkahnya nggak tergantung sama suami. Kang Kiki bersikeras bahwa perempuan di posisi yang nggak bisa mengajukan tawaran serupa kalau si laki-laki yang mandul.
            Di titik ini, aku teringat Atiq Rahimi. Benarlah bahwa kemandulan hanya akan jadi masalah bagi perempuan; kemandulan, selaput dara yang robek sebelum menikah, inilah dosa yang selalu dan akan selalu ditanggung perempuan tanpa perlu ditarik garis akar permasalahannya dari mana.
            Aku nggak akan berteriak soal feminisme, meski teramat ingin. Persoalan kita seharusnya sudah bergeser. Aku mau kita melihat persoalan ini dari sisi lain. Bagaimana kita mestinya memandang cinta, pernikahan, cinta dalam pernikahan, dan kebahagiaan.
            Mungkin Kang Kiki benar bahwa cinta bisa hilang setelah satu-dua tahun pernikahan, apalagi kalau nggak segera dapat momongan. Kebanyakan orang memang begitu, kan? Tapi pertanyaan selanjutnya, kenapa cinta bisa hilang? Ada dua golongan yang menurutku bisa kehilangan cinta; pesakitan dan orang yang belum mengenal cinta. Cinta itu begitu mistis, dan yang mistis sudah semestinya tidak terjelaskan. Pada wujud cinta paling megah, aku mau mencatut contoh dari Kierkegaard, tentang Ibrahim yang menyerahkan Ishaq (dalam Islam yang diserahkan adalah Ismail) kepada Tuhan tanpa bertanya-tanya lagi, sebuah kepasrahan total. Hanya perintah itu yang dilihat Ibrahim, dan dia menurut. Wujud cinta semacam ini yang sulit diwujudkan manusia, apalagi manusia zaman sekarang; sebab sikap skeptis, dan menginginkan semua dapat terjelaskan secara ‘logis’. Kurasa, kalau level cinta manusia sudah sampai di titik ini, tidak mungkin hilang, cinta kepada siapa atau apa pun.
            Dan, benarkah satu-satunya tujuan menikah adalah keturunan? Ini jawabannya sungguh bebas. Dulu tujuan menikahku (niatnya) buat menyenangkan orangtua saja. Ada juga yang tujuannya biar bisa ‘kawin secara halal’. Bebas, monggo saja. Tapi yang perlu jadi catatan, tujuan menikah ini mestinya disepakati sejak awal oleh kedua pihak. Supaya ketika tujuan mereka menikah tidak tercapai, mereka bisa legawa kalau mesti pisah. Yang jadi masalah adalah, kalau pernikahan ini nggak satu visi; si cewek menikah karena cinta (kita mesti sepakat cinta yang dimaksud di sini adalah cinta dalam wujud paling megah itu tadi), si cowok menikah demi (semata-mata) keturunan. Remuk sudah.
            Apakah kebahagiaan dalam pernikahan hanya (dan hanya) ditentukan oleh keberadaan seorang anak? Aku sendiri nggak terlalu suka anak kecil. Jadi mungkin jelas tujuanku menikah kelak bukan semata soal keturunan. Kebahagiaan pun nggak seharusnya diletakkan di atas hal-hal permukaan macam ini. Kita mesti lepas dari berbagai hal supaya bahagia. Menggantungkan kebahagiaan pada uang, uang bisa habis; pada orang, orang bisa pergi. Apa kebahagiaan dalam pernikahan memang hanya (dan hanya) ada di dalam kehadiran keturunan? Lalu bagaimana kalau yang mandul pihak laki-laki, atau malah pihak laki-laki impoten? Sebetulnya, kurasa sah saja kalau pihak perempuan minta cerai. Tapi, itu tadi, apa iya kita meletakkan standar kebahagiaan hanya pada hal-hal dangkal begitu?
            Pertanyaan Kang Kiki masih mengganggu. Apa aku siap dipoligami kalau aku mandul? Aku teringat seseorang, dan pertanyaan ini bikin gelisah. Aku sedang membayangkan aku menatap matanya dan bilang kalau aku mandul. Aku menunggu reaksinya, tentu dengan was-was.
“Aku percaya sama kamu, Far.”
Kata-kata yang pernah dia bilang suatu pagi muncul. Dia percaya. Dan seharusnya aku juga percaya, kalau suatu hari aku berdiri di depannya dan bilang aku mandul, kurasa dia cuma ketawa, sambil menepuk kepalaku pelan dia bakal bilang, “Terus kenapa?”
Kang Kiki, jawabannya sudah ketemu. Aku percaya sama dia. Aku percaya kalau kami akan punya satu visi, akan sama-sama belajar menjadi manusia, belajar melihat segala sesuatu dari berbagai sisi, belajar merasa. Aku percaya, bahwa nggak semua laki-laki melihat pernikahan sebagai sarana reproduksi semata.

I’m with you when the lights go down
Take my hand, I’m all yours now
I know you’re the only one that would never lead me on

Lifehouse – Only You’re The One

(kasih sontrek biar agak baper hhh~)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerita Tentang Seorang Sopir Bus yang Pernah Kepingin jadi Tuhan - Etgar Keret (Terjemahan)

Diterjemahkan secara serampangan oleh Farrahnanda

            Ini cerita tentang seorang sopir bus yang nggak pernah bukain pintu bus buat orang-orang telat. Nggak satu pun. Nggak buat anak SMA terdesak yang berlari di sisi bus dan menatap penuh harap, dan tentu nggak buat orang-orang emosional dalam balutan jaket tebal yang menggedor pintu seakan mereka sebetulnya tepat waktu dan si sopirlah yang menyalahi jadwal, dan bahkan nggak buat perempuan-perempuan tua mungil dengan kantong belanja cokelat terisi penuh barang belanjaan yang berjuang melambaikan tangan padanya dengan tangan gemetar. Dan itu bukan karena si sopir kejam jadi dia nggak bukain pintu, sebab dia nggak akan sampai hati untuk berbuat keji; ini menyoal ideologi. Ideologi si sopir bilang kalau, anggaplah, keterlambatan gara-gara bukain pintu buat seseorang yang telat belum sampai tiga puluh detik, dan kalau nggak bukain pintu buat orang ini bisa bikin dia kehilangan lima belas menit dalam hidupnya, itu masih lebih baik buat masyarakat, karena tiga puluh detik bakal hilang dari setiap penumpang di bus. Dan kalau ada, anggaplah, enam puluh orang di bus yang nggak bikin salah, dan kesemuanya datang ke halte tepat waktu, mereka secara serentak bakal kehilangan setengah jam, yang mana itu dua kali lipat dari lima belas menit. Inilah satu-satunya alasan dia nggak pernah bukain pintu. Dia tahu kalau penumpangnya sama sekali nggak kepikiran apa alasannya, dan orang-orang yang mengejar bus dan memintanya berhenti juga bingung. Dia juga tahu kalau kebanyakan dari mereka mikir kalau dia cuma seorang bajingan, dan sebetulnya itu bakal jauh, jauh lebih mudah buatnya untuk menaikkan saja mereka ke dalam bus dan mendapat senyum dan ucapan terima kasih.
            Sampai tiba waktunya memilih antara senyuman dan ucapan terima kasih di satu tangan, dan masyarakat yang tertib di tangan satunya, sopir ini tahu harus bagaimana.
            Seseorang yang seharusnya paling menderita gara-gara ideologi si sopir bernama Eddie, tapi nggak kayak orang lain di cerita ini, dia sama sekali nggak berusaha ngejar bus, begitulah betapa pemalas dan nggak bergunanya dia. Sekarang, Eddie jadi pembantu koki di sebuah restoran bernama The Steakaway, yang mana konyolnya si pemilik resto yang bodoh bisa datang sama dia. Makanan di sana cuma makanan rumahan, tapi Eddie sendiri itu cowok yang baik—saking baiknya sampai kadang, waktu sesuatu yang dia bikin nggak seberapa enak, dia bakal antar sendiri ke meja dan minta maaf. Satu dari sekian permintaan maaf itu yaitu pas dia ketemu Kebahagiaan, atau seenggaknya sebuah kesempatan untuk Kebahagiaan, dalam wujud seorang cewek yang sangat baik jadi dia berusaha menghabiskan seluruh porsi daging bakar yang dibawa untuknya, cuma supaya Eddie nggak tersinggung. Dan cewek ini nggak mau kasih tahu namanya atau ngasih Eddie nomor teleponnya, tapi dia cukup baik buat setuju ketemu Eddie hari berikutnya jam lima di sebuah tempat yang sudah mereka sepakati—di tempat pertunjukan lumba-lumba, tepatnya.
            Begini, Eddie punya kondisi ini—keadaan yang sudah bikin dia kehilangan banyak hal dalam hidup. Ini bukan kayak adenoidmu membengkak atau semacamnya, tapi yah, ini sudah bikin dia kacau. Penyakitnya ini selalu bikin dia tertidur dalam sepuluh menit, dan nggak mempan sama alarm apa pun. Itulah kenapa dia telat melulu buat kerja di The Steakaway—itulah, dan gara-gara sopir bus kita, yang selalu memilih ketertiban masyarakat ketimbang kelonggaran bagi perorangan. Kecuali saat ini, karena Kebahagiaan dipertaruhkan, Eddie mencoba mengalahkan kondisi ini, dan alih-alih tidur siang, dia terus melek dan nonton tivi. Buat jaga-jaga, dia bahkan menjetretkan nggak cuma satu, tapi tiga alarm sekaligus, dan mengatur boot untuk membangunkannya. Tapi penyakitnya ini nggak tertolong, dan Eddie bobo begitu saja macam bayi, sembari nonton Saluran Anak-Anak. Dia terbangun kaget dalam lengkingan jutaan trilun alarm—kelewat telat sepuluh menit, buru-buru keluar rumah tanpa berhenti sama sekali, dan lari menuju halte. Dia nggak begitu ingat lagi kayak gimana larinya, dan kakinya terseok-seok setiap melewati trotoar. Terakhir kali dia lari itu sebelum dia ketemu cara buat cabut dari kelas olahraga, sekitar di kelas enam, tapi nggak kayak kelas olahraga dulu, kali ini dia lari macam orang gila, soalnya sekarang dia bakal kehilangan sesuatu, dan semua kesakitan di dadanya dan napas bengek Lucky Strike-nya nggak akan menghalanginya Mengejar Kebahagiaan. Nggak akan ada yang menghalanginya kecuali sopir bus kita, yang sudah menutup pintu dan mulai narik. Si sopir melihat Eddie dari spion depan, tapi seperti yang sudah kita ketahui, dia punya ideologi—ideologi yang masuk akal bahwa, lebih dari segalnya, berpijak pada cinta keadilan dan aritmatika sederhana. Kecuali bahwa Eddie nggak peduli sama aritmatika si sopir. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia teramat ingin sampai ke suatu tempat tepat waktu. Dan itulah kenapa dia terus ngejar bus, meski mustahil. Tiba-tiba, keberuntungan Eddie datang, tapi cuma sebagian; seratus yard dari halte ada lampu merah. Dan, sejenak sebelum bus itu sampai, lampu merah menyala. Eddie berusaha meraih bus dan menyeret dirinya ke pintu sopir. Dia bahkan nggak mengetuk kaca, dia kelewat lemah. Dia cuma menatap sopir berkaca-kaca, dan berlutut, terengah-engah dan bengek. Dan ini mengingatkan si sopir pada sesuatu—sesuatu yang jauh dari masa lalu, dari suatu waktu bahkan sebelum dia kepingin jadi sopir bus, saat dia masih kepingin jadi Tuhan. Ini semacam kenangan menyedihkan soalnya dia nggak jadi Tuhan pada akhirnya, tapi membahagiakan juga, soalnya dia jadi sopir bus, yang mana itu adalah pilihan keduanya. Dan sekonyong-konyong si sopir ingat dia pernah janji ke diri sendiri kalau akhirnya dia jadi Tuhan, dia bakal pemurah dan baik hati, dan akan mendengar semua ciptaan-Nya. Jadi sewaktu dia lihat Eddie dari bangku sopir, berlutut di atas aspal, dia betul-betul nggak bisa tahan, dan terlepas dari ideologinya dan perhitungan aritmatik sederhananya, dia bukain pintu dan Eddie masuk—dan bahkan nggak bilang makasih, dia kehabisan napas.

            Hal-hal baik bakal berhenti terbaca sampai sini, sebab meski Eddie sampai ke pertunjukan lumba-lumba tepat waktu, Kebahagiaan nggak datang, soalnya Kebahagiaan sudah punya cowok. Waktu itu dia cuma kelewat baik jadi nggak sanggup bilang ke Eddie, dan dia memilih buat menghibur Eddie. Eddie menunggunya, di bangku taman yang mereka sepakati, selama hampir dua jam. Sambil duduk dia terus memikirkan berbagai macam pikiran putus asa, dan sembari begitu dia menonton matahari tenggelam, yang teramat cantik, dan mikir betapa bakal mati rasa kakinya nanti. Dalam perjalanan pulang, saat dia terlampau sedih buat balik ke rumah, dia lihat busnya dari jauh, baru sampai halte dan menurunkan penumpang, dan dia tahu meski dia punya tenaga buat lari, dia nggak bakal bisa mengejarnya. Jadi dia terus jalan lambat-lambat, merasakan jutaan otot yang lelah di setiap langkah, dan sewaktu akhirnya sampai di halte, dia lihat bus itu masih di sana, menunggunya. Dan meski pnumpang lain berteriak dan mengomel supaya jalan, si sopir menunggu Eddie, dan dia nggak menyentuh persneling sampai Eddie duduk. Dan sewaktu mereka mulai melaju, dia lihat lewat spion depan dan memberi Eddie kedipan simpati, yang bikin keadaan sedikit lebih baik.



Diambil dari cerpen Etgar Keret yang berjudul The Story About a Bus Driver Who Wanted to Be God, Riverhead Books 2015. Bukunya boleh minjem dari Ifan wqwq

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

10 Days Writing Challenge #Day4

Berhubung aku sedang dalam proses melepaskan Cappy pelan-pelan, terhitung sejak akhir 2016 kemarin tepatnya, maka tulisan kali ini nggak mau kubikin jadi beban. Tema menulis hari keempat adalah tulis pertemuan pertama sama si dia, tanpa sebut nama. Ya nggak apa pakai nama samaran, ya.
Sependek ingatanku soal masa lalu yang cukup berkabut, pertama aku ketemu Cappy itu sewaktu aku nunggu bus. Waktu itu aku belum ada motor. Aku nunggu bus (kadang sambil menikmati es dawet), Cappy lewat naik motor panggil namaku. Siapa, sih? Aku nggak kenal. Sekali, dua kali, lumayan sering. Dia panggil namaku saja, tanpa kutahu dia siapa. Dan tanpa menghentikan motor. Tiap aku lagi nunggu bus. Aku jengkel, “Anjing. Siapa sih dia? Panggil-panggil aku tapi nawarin tumpangan enggak.”

Nggak romantis memang. Iya, begini saja. Memang mau apa lagi?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

10 Days Writing Challenge #Day3

Mungkin aku telat buat posting tantangan hari ketiga “10 Hari Tantangan Menulis Kampus Fiksi”, tapi aku tetap percaya telat lebih baik ketimbang nggak sama sekali #halah. Temanya adalah lima hal yang ingin dicapai tahun ini.
1)      Acceptance. Penerimaan. Aku semacam mau melakukan rekonsiliasi sama diri sendiri. Tentang banyak hal; termasuk Cappy di dalamnya, termasuk segala sesuatu yang buram di masa lalu. Malam ini aku bongkar-bongkar kotak ajaib, tempat aku simpan segala nota, kertas-kertas, tiket atau semacam itu—benda-benda ini yang kupakai untuk membantu mengingat, selain pakai buku harian. Butuh waktu untuk nggak merasa sesak sewaktu menarik mundur ingatan, dan butuh energi untuk berdamai. Sering kupikir aku sudah reach out, tapi ternyata aku masih sering takut buat mengakui segala kesalahan di masa lalu, ternyata aku jalan belum jauh. Dan masih sulit menerima seekor monster masih terlelap di kepalaku. Ada banyak puing-puing yang mesti dibereskan.
2)      Bisa beli buku-buku dalam daftar yang mau kupunya. Terutama Posrealitas. Juga sekaligus punya rak buku, biar buku-buku yang cuma sedikit di rumah bisa kurapikan.
3)      Kerja di kantor pos! Ini kayaknya bakal menyenangkan, aku bisa memenuhi kemauan mamaku buat aku kerja, sekaligus aku tinggal di lingkungan yang bikin aku betah.
4)      Bisa hemat uang. Aku nggak tahu gimana caranya uang-uang bisa gampang banget habis dari genggaman tangan. Jangan-jangan tanganku penuh jelantah makanya licin…
5)      Bisa beresin satu naskah novel, bikin beberapa cerpen, bikin beberapa karya lain termasuk baju soalnya kainnya sudah ada sejak lama tapi nggak sempat kujahitkan ke tukang jahit terus. Aku bilang ‘beresin’ dan ‘bikin’ soalnya memang target utamanya bukan publikasi, sih.

Kayaknya itu target-target atau harapan-harapan atau apalah-namanya yang mau kucapai tahun ini. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Racauan (Cerpen)

            Angin bertiup. Dingin dan kering dan rasanya mencubit kulit. Di luar langit terang tapi hujan turun. “Ma, nggak lagi jemur, kan?” Sekali lagi aku berteriak, “Nggak lagi jemur, kan?” Dari dapur terdengar sahutan nggak jelas. Swan Lake gubahan Tchaikovsky yang dimainkan dalam glass harp masih terputar. Udara masih dingin mencubit kulit dan telapak-telapak tangan dan kakiku seperti beku. O, Tchaikovsky yang malang, kenapa kau menggubah lagu sesedih ini. Seseorang bertanya padaku soal cinta yang mudah berubah sementara aku membaca-baca puisi usang yang kutulis sendiri tanpa bisa merasakan gejolak yang sama lagi, semua hambar saja. “Ma, nggak lagi jemur, kan?” Mungkin mamaku jengkel karena aku tanya hal yang sama sampai tiga kali.
            Aku masih di kamar, di dekat jendela. Bukan menikmati hujan. Tapi angin dinginnya emang enak. Terpikirkan olehku untuk membuatkanmu diorama, berisi burung-burung dan butir kerlap-kerlap putih pura-puranya itu salju. Tapi aku belum pernah merasakan salju. Buat apa manusia diciptakan? Mungkin Tuhan bosan saja dan butuh menonton komedi. Kita memainkan komedi, Sayang, Tuhan adalah penulis skenario sekaligus penontonnya. Tuhan mendengar suara khh, khh, dari tenggorokkan kita yang nyaris putus dan tertawa; sebab kita pemain komedi dan Tuhan butuh hiburan saja. Bukankah untuk itu kita diciptakan? Dan keputusasaan-keputusasaan itu ada obatnya, Sayang; tawa, obatnya tawa. Dan, oh, Tchaikovsky yang malang, kenapa kau gubah lagu ini? Nanti Tuhan bisa bersedih, jangan buat Tuhan bersedih sebab kita memainkan komedi.
            “Serbet di mana, Ra, serbet di mana?” Suara Mama dari ruang makan.
          Telapak kakiku masih sama dingin. Dan, oh, Tchaikovsky, kenapa kau gubah lagu ini? Di mana serbet mamaku? Kenapa Tuhan menciptakan manusia? Seseorang bertanya padaku kenapa cinta berubah; dan puisi-puisi hanya olok-olok belaka. Oh, Tuhan, kenapa Kau ciptakan Tchaikovsky yang nggak bisa main komedi? Kenapa kami, pemain komedi, harus mandi dan keringat kami bau? Kuda-kuda koboi berlarian dalam kepalaku—dan, oh! Tchaikovsky, kenapa gubahanmu sesedih ini? Tuhan nggak sanggup menanggungnya, Tchaikovsky, Tuhan nggak sanggup; tolong jangan bikin Tuhan bersedih, Tuhan butuh komedi. Mamaku sudah nggak bertanya soal serbet lagi.
            Semalam aku menulis soal sebotol kecap. Tahukah kalian apa bagian terbaik dari kecap? Kalian nggak bisa membedakan bawang goreng atau tahi cicak yang berselimut kecap. Mamaku nggak bertanya soal serbet lagi, tapi Tuhan masih bersedih karena Tchaikovsky. Oh, hentikan, Tchaikovsky, hentikan! Tuhan butuh komedi, harus kubilang berapa kali! Mamaku sudah nggak bertanya tentang serbet lagi. “Ma, nggak lagi jemur, kan?” Tchaikovsky, kenapa kau nggak berpikir dengan gaya skizofrenik saja macam Yorke, supaya aku bisa lebih mengerti? Kesedihan ini Tchaikovsky, bahkan nggak sanggup ditanggung Tuhan sebab Tuhan menginginkan kita memainkan komedi.
            Hujan sudah berhenti tapi telapakku masih dingin, Tchaikovsky. Sayang, aku saja gagal meresapi puisi sendiri, dan kau bertanya kenapa cinta bisa berubah?

            Tchaikovsky, apa kau lihat serbet mamaku?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

10 Days Writing Challenge #Day2

            Tema hari kedua kalau nggak salah aku mesti sebut tiga hal yang bikin aku histeris. Karena ini cuma writing challenge, kurasa jawabanku nggak perlu serius-serius amat.
Pertama aku kayaknya bakal histeris kalau jadi sebotol kecap yang selalu ada di dapurmu yang hangat; yang menjadi alasan wajahmu memerah bahagia karena rasa semur ayam hari ini lezat; yang mampir di lidahmu bersama seporsi batagor yang kamu beli di luar dan kamu tambahkan kecap dari dalam tubuhku; yang bisa membuat hari-harimu lebih manis tanpa risiko diabetes.
            Aku bakal histeris kalau jadi setoples kacang goreng yang selalu ada di ruang tamumu; yang jadi temanmu menonton bola sampai pagi, dan kamu peluk intim sepanjang malam di atas sofa; yang jadi penyebab jerawat-jerawat kecil tumbuh di wajahmu; yang jadi penunda lapar tapi nggak serta merta menunda dahaga.
            Aku bakal hiteris kalau jadi sudut ranjang di kamarmu; tempat kamu menumpuk celana dalam dan baju kotor supaya aku bisa menghirup sisa-sisa aroma tubuhmu yang masih menempel di kain; supaya aku bisa menyentuh telapak kaki telanjangmu saat kamu tidur; supaya aku bisa lihat punggungmu pas kamu lagi duduk di meja kerja; supaya aku bisa dengar kamu ngorok keras-keras.
            Tapi, dari tiga hal di atas, aku bakal lebih histeris kalau bisa jadi perempuan satu-satunya dalam hidupmu; supaya aku bisa melakukan apa yang dilakukan sebotol kecap di dapurmu yang hangat, setoples kacang goreng di ruang tamumu, dan sudut ranjang di kamarmu sekaligus~

Sudah gombal belum? :”P

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

10 Days Writing Challenge #Day1

            Sejujurnya bingung gimana mesti menjelaskan kriteriaku buat cari teman hidup. Aku nggak akan bilang kekasih karena aku nggak suka terikat status; akan lebih menyenangkan semuanya dijalani tanpa ada ikatan, tapi intim dan hangat.
            Aku sangat suka pemberontak, terlebih laki-laki yang memberontak secara sadar dan tahu apa yang lagi dia berontak. Tapi aku juga suka laki-laki baik dan patuh, terlebih laki-laki yang patuh karena dia sadar kenapa dia harus patuh. Intinya, aku akan sangat senang mendapatkan teman hidup yang semua langkahnya dia lakukan dengan sadar, dan pemikirannya mesti hidup lalu dari pemikiran yang hidup itu lahir ‘moral’ dan ‘nilai’. Jadi, bisa dipastikan aku nggak bakal jatuh hati sama bajingan yang nggak punya tujuan hidup, atau akhi-akhi yang tanpa sadar mengejar “kismis putih”. Kalau pun dia memilih untuk hidup tanpa moral dan nilai, dia mesti tahu kenapa dia melakukan itu.
Aku suka laki-laki romantis. Dan laki-laki romantis versiku adalah orang yang bisa kuajak tidur di kamar dalam keadaan mati lampu dengan Radiohead atau Dream Theater atau Slipknot terputar berulang, sampai pagi. Aku suka laki-laki yang bisa diajak menertawakan keputusasaan dan kekotoran dunia sama-sama; bisa diajak melakukan hal bodoh dan sia-sia tanpa perlu banyak pertimbangan kolot soal apa manfaatnya; bisa diajak mengobrol hal remeh-temeh tanpa perlu khawatir kelihatan tolol. Aku suka laki-laki yang sewaktu aku mengeluh, ya ampun aku habis menginjak tahi kucing! Dia akan jawab dengan kalem, baru tahi kucing; coba itu agama pejabat, kita bisa dipenjara. Terus kami sama-sama ketawa tanpa tahu di sebelah mana lucunya.
Kayaknya menyenangkan dapat teman hidup yang bisa diajak bersepeda sebentar malam-malam sembari headset terpasang di telinga masing-masing, terus kalau sudah capek kami duduk beli gorengan dan es teh atau bakso dan es teh atau mi ayam dan es teh atau pecel lele dan es teh atau apa saja yang enak. Aku juga kepingin ngajakin teman hidup buat berantakin dapur, perang bantal tiap akhir pekan, pergi cari ayunan tiap aku lagi suntuk, nonton film dari tempat rental atau download sendiri, merapikan koleksi buku yang nggak seberapa, mau bantu (dan tentu ngebolehin) ngecat kamar tidurku jadi warna hitam terus kulukis bintang-bintang pakai cat fosfor.
            Kalau hal di atas terasa mustahil, berarti teman hidup yang kucari seperti Cappy saja; yang rela berputar-balik di keramaian buat cari aku sewaktu dia sadar aku hilang; yang nggak marah meski kuajak ke tempat makan murahan dan kotor yang menunya sebetulnya aku juga nggak suka cuma demi menguji apa dia mau diajak susah atau enggak; yang selalu membiarkan aku memilih apa pun yang aku suka, senorak atau semenjijikkan apa pun pilihan itu; yang nggak malu ngajak aku ke teman-temannya meski aku buluk; yang nggak banyak protes waktu kuajak nyari camilan di Galeria meski sebelumnya habis makan di Ambarukmo Plaza; yang mampu menjaga semuanya berjalan rukun meski aku suka musik aliran keras sementara dia suka lagu pop enak buat goyang, aku suka merah-hitam sementara dia suka biru-putih, hidupku serampangan sementara hidupnya penuh pertimbangan.

            Atau laki-laki yang begitu cuma satu? Kalau memang yang begitu cuma satu, maka aku terpaksa harus cari laki-laki yang terasa mustahil ada~

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS