Cerita Tentang Seorang Sopir Bus yang Pernah Kepingin jadi Tuhan - Etgar Keret (Terjemahan)

Diterjemahkan secara serampangan oleh Farrahnanda

            Ini cerita tentang seorang sopir bus yang nggak pernah bukain pintu bus buat orang-orang telat. Nggak satu pun. Nggak buat anak SMA terdesak yang berlari di sisi bus dan menatap penuh harap, dan tentu nggak buat orang-orang emosional dalam balutan jaket tebal yang menggedor pintu seakan mereka sebetulnya tepat waktu dan si sopirlah yang menyalahi jadwal, dan bahkan nggak buat perempuan-perempuan tua mungil dengan kantong belanja cokelat terisi penuh barang belanjaan yang berjuang melambaikan tangan padanya dengan tangan gemetar. Dan itu bukan karena si sopir kejam jadi dia nggak bukain pintu, sebab dia nggak akan sampai hati untuk berbuat keji; ini menyoal ideologi. Ideologi si sopir bilang kalau, anggaplah, keterlambatan gara-gara bukain pintu buat seseorang yang telat belum sampai tiga puluh detik, dan kalau nggak bukain pintu buat orang ini bisa bikin dia kehilangan lima belas menit dalam hidupnya, itu masih lebih baik buat masyarakat, karena tiga puluh detik bakal hilang dari setiap penumpang di bus. Dan kalau ada, anggaplah, enam puluh orang di bus yang nggak bikin salah, dan kesemuanya datang ke halte tepat waktu, mereka secara serentak bakal kehilangan setengah jam, yang mana itu dua kali lipat dari lima belas menit. Inilah satu-satunya alasan dia nggak pernah bukain pintu. Dia tahu kalau penumpangnya sama sekali nggak kepikiran apa alasannya, dan orang-orang yang mengejar bus dan memintanya berhenti juga bingung. Dia juga tahu kalau kebanyakan dari mereka mikir kalau dia cuma seorang bajingan, dan sebetulnya itu bakal jauh, jauh lebih mudah buatnya untuk menaikkan saja mereka ke dalam bus dan mendapat senyum dan ucapan terima kasih.
            Sampai tiba waktunya memilih antara senyuman dan ucapan terima kasih di satu tangan, dan masyarakat yang tertib di tangan satunya, sopir ini tahu harus bagaimana.
            Seseorang yang seharusnya paling menderita gara-gara ideologi si sopir bernama Eddie, tapi nggak kayak orang lain di cerita ini, dia sama sekali nggak berusaha ngejar bus, begitulah betapa pemalas dan nggak bergunanya dia. Sekarang, Eddie jadi pembantu koki di sebuah restoran bernama The Steakaway, yang mana konyolnya si pemilik resto yang bodoh bisa datang sama dia. Makanan di sana cuma makanan rumahan, tapi Eddie sendiri itu cowok yang baik—saking baiknya sampai kadang, waktu sesuatu yang dia bikin nggak seberapa enak, dia bakal antar sendiri ke meja dan minta maaf. Satu dari sekian permintaan maaf itu yaitu pas dia ketemu Kebahagiaan, atau seenggaknya sebuah kesempatan untuk Kebahagiaan, dalam wujud seorang cewek yang sangat baik jadi dia berusaha menghabiskan seluruh porsi daging bakar yang dibawa untuknya, cuma supaya Eddie nggak tersinggung. Dan cewek ini nggak mau kasih tahu namanya atau ngasih Eddie nomor teleponnya, tapi dia cukup baik buat setuju ketemu Eddie hari berikutnya jam lima di sebuah tempat yang sudah mereka sepakati—di tempat pertunjukan lumba-lumba, tepatnya.
            Begini, Eddie punya kondisi ini—keadaan yang sudah bikin dia kehilangan banyak hal dalam hidup. Ini bukan kayak adenoidmu membengkak atau semacamnya, tapi yah, ini sudah bikin dia kacau. Penyakitnya ini selalu bikin dia tertidur dalam sepuluh menit, dan nggak mempan sama alarm apa pun. Itulah kenapa dia telat melulu buat kerja di The Steakaway—itulah, dan gara-gara sopir bus kita, yang selalu memilih ketertiban masyarakat ketimbang kelonggaran bagi perorangan. Kecuali saat ini, karena Kebahagiaan dipertaruhkan, Eddie mencoba mengalahkan kondisi ini, dan alih-alih tidur siang, dia terus melek dan nonton tivi. Buat jaga-jaga, dia bahkan menjetretkan nggak cuma satu, tapi tiga alarm sekaligus, dan mengatur boot untuk membangunkannya. Tapi penyakitnya ini nggak tertolong, dan Eddie bobo begitu saja macam bayi, sembari nonton Saluran Anak-Anak. Dia terbangun kaget dalam lengkingan jutaan trilun alarm—kelewat telat sepuluh menit, buru-buru keluar rumah tanpa berhenti sama sekali, dan lari menuju halte. Dia nggak begitu ingat lagi kayak gimana larinya, dan kakinya terseok-seok setiap melewati trotoar. Terakhir kali dia lari itu sebelum dia ketemu cara buat cabut dari kelas olahraga, sekitar di kelas enam, tapi nggak kayak kelas olahraga dulu, kali ini dia lari macam orang gila, soalnya sekarang dia bakal kehilangan sesuatu, dan semua kesakitan di dadanya dan napas bengek Lucky Strike-nya nggak akan menghalanginya Mengejar Kebahagiaan. Nggak akan ada yang menghalanginya kecuali sopir bus kita, yang sudah menutup pintu dan mulai narik. Si sopir melihat Eddie dari spion depan, tapi seperti yang sudah kita ketahui, dia punya ideologi—ideologi yang masuk akal bahwa, lebih dari segalnya, berpijak pada cinta keadilan dan aritmatika sederhana. Kecuali bahwa Eddie nggak peduli sama aritmatika si sopir. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia teramat ingin sampai ke suatu tempat tepat waktu. Dan itulah kenapa dia terus ngejar bus, meski mustahil. Tiba-tiba, keberuntungan Eddie datang, tapi cuma sebagian; seratus yard dari halte ada lampu merah. Dan, sejenak sebelum bus itu sampai, lampu merah menyala. Eddie berusaha meraih bus dan menyeret dirinya ke pintu sopir. Dia bahkan nggak mengetuk kaca, dia kelewat lemah. Dia cuma menatap sopir berkaca-kaca, dan berlutut, terengah-engah dan bengek. Dan ini mengingatkan si sopir pada sesuatu—sesuatu yang jauh dari masa lalu, dari suatu waktu bahkan sebelum dia kepingin jadi sopir bus, saat dia masih kepingin jadi Tuhan. Ini semacam kenangan menyedihkan soalnya dia nggak jadi Tuhan pada akhirnya, tapi membahagiakan juga, soalnya dia jadi sopir bus, yang mana itu adalah pilihan keduanya. Dan sekonyong-konyong si sopir ingat dia pernah janji ke diri sendiri kalau akhirnya dia jadi Tuhan, dia bakal pemurah dan baik hati, dan akan mendengar semua ciptaan-Nya. Jadi sewaktu dia lihat Eddie dari bangku sopir, berlutut di atas aspal, dia betul-betul nggak bisa tahan, dan terlepas dari ideologinya dan perhitungan aritmatik sederhananya, dia bukain pintu dan Eddie masuk—dan bahkan nggak bilang makasih, dia kehabisan napas.

            Hal-hal baik bakal berhenti terbaca sampai sini, sebab meski Eddie sampai ke pertunjukan lumba-lumba tepat waktu, Kebahagiaan nggak datang, soalnya Kebahagiaan sudah punya cowok. Waktu itu dia cuma kelewat baik jadi nggak sanggup bilang ke Eddie, dan dia memilih buat menghibur Eddie. Eddie menunggunya, di bangku taman yang mereka sepakati, selama hampir dua jam. Sambil duduk dia terus memikirkan berbagai macam pikiran putus asa, dan sembari begitu dia menonton matahari tenggelam, yang teramat cantik, dan mikir betapa bakal mati rasa kakinya nanti. Dalam perjalanan pulang, saat dia terlampau sedih buat balik ke rumah, dia lihat busnya dari jauh, baru sampai halte dan menurunkan penumpang, dan dia tahu meski dia punya tenaga buat lari, dia nggak bakal bisa mengejarnya. Jadi dia terus jalan lambat-lambat, merasakan jutaan otot yang lelah di setiap langkah, dan sewaktu akhirnya sampai di halte, dia lihat bus itu masih di sana, menunggunya. Dan meski pnumpang lain berteriak dan mengomel supaya jalan, si sopir menunggu Eddie, dan dia nggak menyentuh persneling sampai Eddie duduk. Dan sewaktu mereka mulai melaju, dia lihat lewat spion depan dan memberi Eddie kedipan simpati, yang bikin keadaan sedikit lebih baik.



Diambil dari cerpen Etgar Keret yang berjudul The Story About a Bus Driver Who Wanted to Be God, Riverhead Books 2015. Bukunya boleh minjem dari Ifan wqwq

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

10 Days Writing Challenge #Day4

Berhubung aku sedang dalam proses melepaskan Cappy pelan-pelan, terhitung sejak akhir 2016 kemarin tepatnya, maka tulisan kali ini nggak mau kubikin jadi beban. Tema menulis hari keempat adalah tulis pertemuan pertama sama si dia, tanpa sebut nama. Ya nggak apa pakai nama samaran, ya.
Sependek ingatanku soal masa lalu yang cukup berkabut, pertama aku ketemu Cappy itu sewaktu aku nunggu bus. Waktu itu aku belum ada motor. Aku nunggu bus (kadang sambil menikmati es dawet), Cappy lewat naik motor panggil namaku. Siapa, sih? Aku nggak kenal. Sekali, dua kali, lumayan sering. Dia panggil namaku saja, tanpa kutahu dia siapa. Dan tanpa menghentikan motor. Tiap aku lagi nunggu bus. Aku jengkel, “Anjing. Siapa sih dia? Panggil-panggil aku tapi nawarin tumpangan enggak.”

Nggak romantis memang. Iya, begini saja. Memang mau apa lagi?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

10 Days Writing Challenge #Day3

Mungkin aku telat buat posting tantangan hari ketiga “10 Hari Tantangan Menulis Kampus Fiksi”, tapi aku tetap percaya telat lebih baik ketimbang nggak sama sekali #halah. Temanya adalah lima hal yang ingin dicapai tahun ini.
1)      Acceptance. Penerimaan. Aku semacam mau melakukan rekonsiliasi sama diri sendiri. Tentang banyak hal; termasuk Cappy di dalamnya, termasuk segala sesuatu yang buram di masa lalu. Malam ini aku bongkar-bongkar kotak ajaib, tempat aku simpan segala nota, kertas-kertas, tiket atau semacam itu—benda-benda ini yang kupakai untuk membantu mengingat, selain pakai buku harian. Butuh waktu untuk nggak merasa sesak sewaktu menarik mundur ingatan, dan butuh energi untuk berdamai. Sering kupikir aku sudah reach out, tapi ternyata aku masih sering takut buat mengakui segala kesalahan di masa lalu, ternyata aku jalan belum jauh. Dan masih sulit menerima seekor monster masih terlelap di kepalaku. Ada banyak puing-puing yang mesti dibereskan.
2)      Bisa beli buku-buku dalam daftar yang mau kupunya. Terutama Posrealitas. Juga sekaligus punya rak buku, biar buku-buku yang cuma sedikit di rumah bisa kurapikan.
3)      Kerja di kantor pos! Ini kayaknya bakal menyenangkan, aku bisa memenuhi kemauan mamaku buat aku kerja, sekaligus aku tinggal di lingkungan yang bikin aku betah.
4)      Bisa hemat uang. Aku nggak tahu gimana caranya uang-uang bisa gampang banget habis dari genggaman tangan. Jangan-jangan tanganku penuh jelantah makanya licin…
5)      Bisa beresin satu naskah novel, bikin beberapa cerpen, bikin beberapa karya lain termasuk baju soalnya kainnya sudah ada sejak lama tapi nggak sempat kujahitkan ke tukang jahit terus. Aku bilang ‘beresin’ dan ‘bikin’ soalnya memang target utamanya bukan publikasi, sih.

Kayaknya itu target-target atau harapan-harapan atau apalah-namanya yang mau kucapai tahun ini. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Racauan (Cerpen)

            Angin bertiup. Dingin dan kering dan rasanya mencubit kulit. Di luar langit terang tapi hujan turun. “Ma, nggak lagi jemur, kan?” Sekali lagi aku berteriak, “Nggak lagi jemur, kan?” Dari dapur terdengar sahutan nggak jelas. Swan Lake gubahan Tchaikovsky yang dimainkan dalam glass harp masih terputar. Udara masih dingin mencubit kulit dan telapak-telapak tangan dan kakiku seperti beku. O, Tchaikovsky yang malang, kenapa kau menggubah lagu sesedih ini. Seseorang bertanya padaku soal cinta yang mudah berubah sementara aku membaca-baca puisi usang yang kutulis sendiri tanpa bisa merasakan gejolak yang sama lagi, semua hambar saja. “Ma, nggak lagi jemur, kan?” Mungkin mamaku jengkel karena aku tanya hal yang sama sampai tiga kali.
            Aku masih di kamar, di dekat jendela. Bukan menikmati hujan. Tapi angin dinginnya emang enak. Terpikirkan olehku untuk membuatkanmu diorama, berisi burung-burung dan butir kerlap-kerlap putih pura-puranya itu salju. Tapi aku belum pernah merasakan salju. Buat apa manusia diciptakan? Mungkin Tuhan bosan saja dan butuh menonton komedi. Kita memainkan komedi, Sayang, Tuhan adalah penulis skenario sekaligus penontonnya. Tuhan mendengar suara khh, khh, dari tenggorokkan kita yang nyaris putus dan tertawa; sebab kita pemain komedi dan Tuhan butuh hiburan saja. Bukankah untuk itu kita diciptakan? Dan keputusasaan-keputusasaan itu ada obatnya, Sayang; tawa, obatnya tawa. Dan, oh, Tchaikovsky yang malang, kenapa kau gubah lagu ini? Nanti Tuhan bisa bersedih, jangan buat Tuhan bersedih sebab kita memainkan komedi.
            “Serbet di mana, Ra, serbet di mana?” Suara Mama dari ruang makan.
          Telapak kakiku masih sama dingin. Dan, oh, Tchaikovsky, kenapa kau gubah lagu ini? Di mana serbet mamaku? Kenapa Tuhan menciptakan manusia? Seseorang bertanya padaku kenapa cinta berubah; dan puisi-puisi hanya olok-olok belaka. Oh, Tuhan, kenapa Kau ciptakan Tchaikovsky yang nggak bisa main komedi? Kenapa kami, pemain komedi, harus mandi dan keringat kami bau? Kuda-kuda koboi berlarian dalam kepalaku—dan, oh! Tchaikovsky, kenapa gubahanmu sesedih ini? Tuhan nggak sanggup menanggungnya, Tchaikovsky, Tuhan nggak sanggup; tolong jangan bikin Tuhan bersedih, Tuhan butuh komedi. Mamaku sudah nggak bertanya soal serbet lagi.
            Semalam aku menulis soal sebotol kecap. Tahukah kalian apa bagian terbaik dari kecap? Kalian nggak bisa membedakan bawang goreng atau tahi cicak yang berselimut kecap. Mamaku nggak bertanya soal serbet lagi, tapi Tuhan masih bersedih karena Tchaikovsky. Oh, hentikan, Tchaikovsky, hentikan! Tuhan butuh komedi, harus kubilang berapa kali! Mamaku sudah nggak bertanya tentang serbet lagi. “Ma, nggak lagi jemur, kan?” Tchaikovsky, kenapa kau nggak berpikir dengan gaya skizofrenik saja macam Yorke, supaya aku bisa lebih mengerti? Kesedihan ini Tchaikovsky, bahkan nggak sanggup ditanggung Tuhan sebab Tuhan menginginkan kita memainkan komedi.
            Hujan sudah berhenti tapi telapakku masih dingin, Tchaikovsky. Sayang, aku saja gagal meresapi puisi sendiri, dan kau bertanya kenapa cinta bisa berubah?

            Tchaikovsky, apa kau lihat serbet mamaku?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

10 Days Writing Challenge #Day2

            Tema hari kedua kalau nggak salah aku mesti sebut tiga hal yang bikin aku histeris. Karena ini cuma writing challenge, kurasa jawabanku nggak perlu serius-serius amat.
Pertama aku kayaknya bakal histeris kalau jadi sebotol kecap yang selalu ada di dapurmu yang hangat; yang menjadi alasan wajahmu memerah bahagia karena rasa semur ayam hari ini lezat; yang mampir di lidahmu bersama seporsi batagor yang kamu beli di luar dan kamu tambahkan kecap dari dalam tubuhku; yang bisa membuat hari-harimu lebih manis tanpa risiko diabetes.
            Aku bakal histeris kalau jadi setoples kacang goreng yang selalu ada di ruang tamumu; yang jadi temanmu menonton bola sampai pagi, dan kamu peluk intim sepanjang malam di atas sofa; yang jadi penyebab jerawat-jerawat kecil tumbuh di wajahmu; yang jadi penunda lapar tapi nggak serta merta menunda dahaga.
            Aku bakal hiteris kalau jadi sudut ranjang di kamarmu; tempat kamu menumpuk celana dalam dan baju kotor supaya aku bisa menghirup sisa-sisa aroma tubuhmu yang masih menempel di kain; supaya aku bisa menyentuh telapak kaki telanjangmu saat kamu tidur; supaya aku bisa lihat punggungmu pas kamu lagi duduk di meja kerja; supaya aku bisa dengar kamu ngorok keras-keras.
            Tapi, dari tiga hal di atas, aku bakal lebih histeris kalau bisa jadi perempuan satu-satunya dalam hidupmu; supaya aku bisa melakukan apa yang dilakukan sebotol kecap di dapurmu yang hangat, setoples kacang goreng di ruang tamumu, dan sudut ranjang di kamarmu sekaligus~

Sudah gombal belum? :”P

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

10 Days Writing Challenge #Day1

            Sejujurnya bingung gimana mesti menjelaskan kriteriaku buat cari teman hidup. Aku nggak akan bilang kekasih karena aku nggak suka terikat status; akan lebih menyenangkan semuanya dijalani tanpa ada ikatan, tapi intim dan hangat.
            Aku sangat suka pemberontak, terlebih laki-laki yang memberontak secara sadar dan tahu apa yang lagi dia berontak. Tapi aku juga suka laki-laki baik dan patuh, terlebih laki-laki yang patuh karena dia sadar kenapa dia harus patuh. Intinya, aku akan sangat senang mendapatkan teman hidup yang semua langkahnya dia lakukan dengan sadar, dan pemikirannya mesti hidup lalu dari pemikiran yang hidup itu lahir ‘moral’ dan ‘nilai’. Jadi, bisa dipastikan aku nggak bakal jatuh hati sama bajingan yang nggak punya tujuan hidup, atau akhi-akhi yang tanpa sadar mengejar “kismis putih”. Kalau pun dia memilih untuk hidup tanpa moral dan nilai, dia mesti tahu kenapa dia melakukan itu.
Aku suka laki-laki romantis. Dan laki-laki romantis versiku adalah orang yang bisa kuajak tidur di kamar dalam keadaan mati lampu dengan Radiohead atau Dream Theater atau Slipknot terputar berulang, sampai pagi. Aku suka laki-laki yang bisa diajak menertawakan keputusasaan dan kekotoran dunia sama-sama; bisa diajak melakukan hal bodoh dan sia-sia tanpa perlu banyak pertimbangan kolot soal apa manfaatnya; bisa diajak mengobrol hal remeh-temeh tanpa perlu khawatir kelihatan tolol. Aku suka laki-laki yang sewaktu aku mengeluh, ya ampun aku habis menginjak tahi kucing! Dia akan jawab dengan kalem, baru tahi kucing; coba itu agama pejabat, kita bisa dipenjara. Terus kami sama-sama ketawa tanpa tahu di sebelah mana lucunya.
Kayaknya menyenangkan dapat teman hidup yang bisa diajak bersepeda sebentar malam-malam sembari headset terpasang di telinga masing-masing, terus kalau sudah capek kami duduk beli gorengan dan es teh atau bakso dan es teh atau mi ayam dan es teh atau pecel lele dan es teh atau apa saja yang enak. Aku juga kepingin ngajakin teman hidup buat berantakin dapur, perang bantal tiap akhir pekan, pergi cari ayunan tiap aku lagi suntuk, nonton film dari tempat rental atau download sendiri, merapikan koleksi buku yang nggak seberapa, mau bantu (dan tentu ngebolehin) ngecat kamar tidurku jadi warna hitam terus kulukis bintang-bintang pakai cat fosfor.
            Kalau hal di atas terasa mustahil, berarti teman hidup yang kucari seperti Cappy saja; yang rela berputar-balik di keramaian buat cari aku sewaktu dia sadar aku hilang; yang nggak marah meski kuajak ke tempat makan murahan dan kotor yang menunya sebetulnya aku juga nggak suka cuma demi menguji apa dia mau diajak susah atau enggak; yang selalu membiarkan aku memilih apa pun yang aku suka, senorak atau semenjijikkan apa pun pilihan itu; yang nggak malu ngajak aku ke teman-temannya meski aku buluk; yang nggak banyak protes waktu kuajak nyari camilan di Galeria meski sebelumnya habis makan di Ambarukmo Plaza; yang mampu menjaga semuanya berjalan rukun meski aku suka musik aliran keras sementara dia suka lagu pop enak buat goyang, aku suka merah-hitam sementara dia suka biru-putih, hidupku serampangan sementara hidupnya penuh pertimbangan.

            Atau laki-laki yang begitu cuma satu? Kalau memang yang begitu cuma satu, maka aku terpaksa harus cari laki-laki yang terasa mustahil ada~

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Burung dan Kucing (Cerpen)


Hari ini hari paling ngehek dalam hidupku.
Sekitar satu tahun yang lalu aku lulus kuliah, setelah hampir delapan tahun terjebak dan nyaris mati membusuk sebagai mahasiswa bangkotan di kampus. Dua minggu yang lalu, setelah perdebatan panjang sama Ayah, aku akhirnya memutuskan melamar pekerjaan. Dan tadi pagi itu wawancara terakhir sebagai penentuan aku bakal diterima atau enggak. Di sini ini bagian ngeheknya: pewawancara terakhir adalah pemilik perusahaan. Nggak kedengaran buruk, kecuali kutambahkan fakta kalau pemilik perusahaan itu adalah bekas pacarku yang kudepak dengan alasan, masa depanmu bakal suram, enyahlah dari depan mukaku. Kalimatnya nggak persis begitu—siapa sih yang bisa ingat secara presisi kalimat yang diucapkan hampir lima tahun lalu, dalam keadaan setengah teler karena muntaber sampai kehabisan tenaga?
Reaksi pertama yang ingin kulakukan tadi pagi adalah ngakak sekeras mungkin sambil menggebrak pintu dan menyuruh bekas pacarku keluar ruangan dan bilang, lawakan semacam ini sama sekali nggak lucu. Untungnya nggak jadi kulakukan karena, tentu saja, dia betul-betul pemilik perusahaan. Aku agak gemetaran menuju bangku.
“Kayaknya aku kenal kamu,” dia meledek.
“Jelas kenal. Kalau bukan karena aku buang kamu beberapa tahun lalu, hidupmu pasti akan tetap suram, kan?”
Dia malah ketawa. “Jadi, Amaliah, bisa kita mulai wawancaranya sekarang?”
“Sebentar, aku perlu memastikan apa pun hasilnya, keputusanmu bukan keputusan sentimentil.”
Setelah cengar-cengir beberapa detik dia menjawab, “Tentu. Kalau aku terima kamu, itu jelas bukan karena kamu mantanku. Tapi kalau aku nggak berkenan kamu kerja di sini, itu pasti karena sikap bangsatmu beberapa tahun yang lalu.”
Aku menahan diri buat bilang, kamu itu yang bangsat, Reza. Wawancaranya aku nggak ingat lagi berjalan kayak apa. Yang jelas aku pulang bawa segumpal dongkol.
Sorenya sehabis mandi, aku nonton televisi sama Ayah di ruang tengah. Ibu pulang kerja dan bawa seekor kucing di dalam kurungan. Mulanya Ayah nggak sadar sama kehadiran seekor kucing itu sampai dia mengeong. Ayah teralihkan dari televisi untuk protes, “Kamu beli kucing? Kamu mau burung-burungku di depan habis mati dimakan kucing?”
“Ini kucing mahal. Makannya nggak sembarangan, cuma mau makanan kaleng khusus kucing. Dia nggak bakal suka sama burung-burungmu.”
“Siapa yang jamin kebinatangannya sudah mati, Yenita?”
“Pokoknya dia cuma bakal kukasih makanan khusus kucing. Royal canin ini, lho, lebih mahal dari burung-burung kecilmu itu.”
“Aku nggak percaya. Kamu harus kunci kucingmu, jangan sampai dia keliaran.”
“E, e, seenaknya ya kamu, Saipul. Kalau kucingku stres gimana?”
Dan cekcok itu berlangsung lama, masih di ruang yang sama tempat aku menonton kartun. Untuk membungkam mulut mereka, terutama mulut Ayah karena sikap paranoidnya yang kelewatan itu, aku sebetulnya mau bilang, “Kecemasan akan kastrasi semacam itu katanya bisa bikin disfungsi seksual lho, Yah.” Tapi nggak jadi, sebelum aku ikutan kena damprat. Jadi aku memilih menyingkir masuk kamar saja. Teruskanlah perang soal burung dan kucing itu.
Ngehek betul kan hari ini?
*
            Tiga hari kemudian Reza meneleponku pagi-pagi, pakai nomor pribadi. Dia mangajakku makan malam yang langsung ku-iya-kan. Bukan untuk memperbesar kesempatan aku diterima kerja di tempatnya, cuma untuk memperkecil kemungkinan aku ditolak. Malamnya aku berangkat pakai jins dan kaos oblong, toh kami makan di warung stik daging murahan pinggir jalan.
            Reza membuka obrolan, “Aku sebetulnya sudah ketemu satu karyawan yang cocok. Tapi kulihat kamu lagi butuh banget sama kerjaan.” Dia menjeda dan menunggu reaksiku. Aku cuma angkat bahu nggak menyangkal. “Kamu tetap bisa jadi staff auditor internal di perusahaanku, tapi dengan gaji, yaa, tujuh puluh sampai delapan puluh lima persen.”
            “Kalau kamu miskin, nggak usah belagu bangun perusahaan segala.”
            “Loh, kamu nggak paham? Aku nggak lagi butuh tenagamu, aku cuma lagi berbaik hati. Tugasmu bantu yang ringan-ringan saja.”
            “Dibayar dua ratus persen pun, tenaga sebetulnya nggak terganti. Kamu kapan pintarnya, sih?”
            Reza nggak kelihatan tersinggung sama pancinganku. Dia memotong stik, makan sembari berpikir. “Gaji dua ratus persen,” gumamnya samar-samar. “Kamu bisa dapat gaji segitu. Kalau mau jadi istriku.”
            “Ayolah, pelecehan ini makin nggak sehat.” Demi kerang ajaib, aku tahu Reza sama sekali nggak berniat menikahiku, dia lagi berusaha memposisikanku supaya kelihatan semakin dan semakin nggak berdaya. Yaa, memang sebetulnya aku lagi di posisi nggak berdaya, sih.
            Acara makan malam selesai jam setengah sebelas. Reza berbasa-basi menawariku tumpangan tapi kutolak. Aku mulai pasrah kalau harus mencari perusahaan lain. Satu malam saja aku nggak kuat sama sikapnya, gimana kalau harus terus berada di bawah pimpinannya? Setiba di rumah kulihat Ayah terisak-isak. Sangkar burungnya yang dari besi tergolek di teras dalam keadaan penyok dan terbuka, di dekat situ ada bangkai burung kenari yang nggak lagi utuh. Ibu berdiri di muka pintu tanpa rasa bersalah, kucing mahal itu mengusap-usap wajahnya ke kaki Ibu, manja sekali.
            “Lihat, akhirnya burungku dimakan juga, kan,” gerutu Ayah. Masih sesenggukan.
            “Mungkin kucingku salah mengenali sangkar burung dari besi itu sebagai kaleng.”

Kurasa kesedihan Ayah akan bertambah besok karena ceritaku soal pekerjaan...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS